<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Artikel Terbaik untuk Belajar Agama Islam</title>
	<atom:link href="https://portalviral.co/category/agama-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://portalviral.co/category/agama-islam/</link>
	<description>Blog Teknologi, Sains dan Bisnis Terupdate</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jul 2023 01:49:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://portalviral.co/wp-content/uploads/2021/12/cropped-Logo-Pavicon-Website-PortalViral.Co_-32x32.png</url>
	<title>Kumpulan Artikel Terbaik untuk Belajar Agama Islam</title>
	<link>https://portalviral.co/category/agama-islam/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF</title>
		<link>https://portalviral.co/download-tabel-diagram-tajwid-lengkap-pdf/</link>
					<comments>https://portalviral.co/download-tabel-diagram-tajwid-lengkap-pdf/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badroed]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jul 2023 17:22:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://portalviral.co/?p=9723</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="720" height="405" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/07/Download-Tabel-Diagram-Tajwid-Lengkap-PDF.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF" decoding="async" fetchpriority="high" /></p>
<p>Portalviral.co &#8211; Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF. Belajar ilmu Tajwid bagi umat Islam sangatlah...</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/download-tabel-diagram-tajwid-lengkap-pdf/">Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="720" height="405" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/07/Download-Tabel-Diagram-Tajwid-Lengkap-PDF.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF" decoding="async" /></p>
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://portalviral.co/"><strong>Portalviral.</strong></a><a href="https://portalviral.co/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>co</strong></a> &#8211;<strong><em> Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF</em></strong>. Belajar ilmu Tajwid bagi umat Islam sangatlah penting. Dikarenakan ilmu Tajwid merupakan ilmu yang digunakan untuk membaca Al Quran secara baik dan benar. Maka hampir disemua jenjang pendidikan baik madrasah atau pondok pesantren pasti ada mata pelajaran Tajwid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentunya sebagai umat muslim sudah seharusnya bisa membaca kitab suci Al-Qur&#8217;an dengan fasih, tartil sesuai dengan ilmu tajwidnya. Tapi, jika belum bisa ya harus belajar agar bisa membaca Al Qur&#8217;an yang baik dan benar sesuai dengan kaidah keilmuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, dikesempatan kali ini Tim PortalViral akan menyajikan konten edukatif yaitu tentang Tabel Diagram Ilmu Tajwid Dalam 1 file PDF yang bisa anda download. Namun, sebelum ke pembahasan tersebut alangkah lebih baiknya kita ketahui dulu pengertian ilmu Tajwid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Ilmu Tajwid</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pengertian ilmu Tajwid secara bahasa adalah ilmu yang mempelajari cara membaca dan melafalkan huruf-huruf dalam Al-Qur&#8217;an dengan baik dan benar. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kata &#8220;Tajwid&#8221; berasal dari bahasa Arab yang berarti &#8220;memperbaiki&#8221; atau &#8220;menyempurnakan&#8221;. Dalam konteks Al-Qur&#8217;an, ilmu Tajwid berkaitan dengan aturan-aturan yang mengatur cara membaca dan mengucapkan huruf-huruf Al-Qur&#8217;an atau Makharijul Huruf secara benar. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuan dari mempelajari ilmu Tajwid adalah untuk memahami dan mengaplikasikan aturan-aturan yang ditemukan dalam Al-Qur&#8217;an, sehingga pembaca dapat melafalkan teks-teks Al-Qur&#8217;an dengan akurat dan memperoleh makna yang tepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ilmu Tajwid melibatkan penggunaan berbagai teknik dan kaidah, termasuk pengaturan suara, pengucapan, pelafalan, penekanan, dan panjang-pendeknya suara dalam membaca Al-Qur&#8217;an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang  kita ketahui bahwa dalam Ilmu Tajwid terdapat hukum bacaan seperti Idgam, Idzhar, Gunnah, Mad dan masih banyak lagi. Nah, untuk mempermudah dalam mempelajari dibuatlah Tabel Diagram Tajwid Lengkap seperti yang akan kami bagikan pada artikel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Manfaat &#8211; Manfaat Ilmu Tajwid</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ilmu Tajwid memiliki manfaat yang penting dalam membaca dan melafalkan Al-Qur&#8217;an dengan baik. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari mempelajari ilmu Tajwid:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Pengucapan yang benar</strong><br>Ilmu Tajwid membantu seseorang dalam menguasai teknik-teknik pengucapan yang benar dari huruf-huruf dalam Al-Qur&#8217;an. Dengan mempelajari ilmu Tajwid, seorang pembaca dapat memperbaiki dan menyempurnakan cara melafalkan huruf-huruf Arab, sehingga menghasilkan pengucapan yang jelas dan tepat.</li>



<li><strong>Pemahaman yang lebih baik</strong><br>Ilmu Tajwid membantu dalam memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur&#8217;an. Melalui penerapan aturan-aturan Tajwid, seorang pembaca dapat memahami pengaturan suara, penekanan, dan panjang-pendeknya huruf-huruf dalam Al-Qur&#8217;an, yang membantu dalam pemahaman yang lebih baik terhadap pesan-pesan Al-Qur&#8217;an.</li>



<li><strong>Menghormati Al-Qur&#8217;an</strong><br>Mempelajari ilmu Tajwid adalah cara untuk menghormati Al-Qur&#8217;an. Dengan menguasai cara membaca dan melafalkan Al-Qur&#8217;an dengan baik, seorang pembaca menunjukkan rasa hormat dan penghargaan yang tinggi terhadap kitab suci umat Islam.</li>



<li><strong>Keterhubungan spiritual</strong><br>Ilmu Tajwid tidak hanya membantu dalam membaca Al-Qur&#8217;an dengan baik, tetapi juga membantu dalam menghubungkan diri secara lebih dalam dengan makna dan pesan spiritual Al-Qur&#8217;an. Melalui penerapan aturan-aturan Tajwid, seorang pembaca dapat mengalami penghayatan yang lebih dalam terhadap ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan meningkatkan kekhusyukan dalam ibadah tilawah.</li>



<li><strong>Membantu menghindari kesalahan bacaan</strong><br>Ilmu Tajwid juga membantu dalam menghindari kesalahan dalam membaca Al-Qur&#8217;an. Dengan memahami dan menerapkan aturan-aturan Tajwid, seorang pembaca dapat mengurangi kesalahan dalam melafalkan huruf-huruf, sehingga menghasilkan bacaan yang benar dan akurat.</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Tabel Diagram Tajwid Lengkap</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tabel Diagram Tajwid Lengkap adalah kumpulan hukum bacaan tajwid yang dirangkum dalam bentuk diagram. Tentunya hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam belajar dan mengingat hukum bacaannya. Dengan mengtahuinya sehingga dapat diimplementasikan ketika membaca Al Qur&#8217;an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut ini tampilan Tabel Diagram Tajwid Lengkap :</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="630" height="380" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/07/Tabel-Diagram-Tajwid-630x380.png" alt="Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF" class="wp-image-9739"/></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Dalam diagram tersebut terdapat hukum Bacaan dalam ilmu tajwid seperti :</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Bacaan Nun sukun</li>



<li>Bacaan Mim Sukun</li>



<li>Mad</li>



<li>Qalqalah</li>



<li>Tarqiq</li>



<li>Tafkhim</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Yang masing masih terdapat macam &#8211; macamnya seperti yang anda lihat pada contoh gambar diagram tajwid pdf lengkap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah kami sampaikan kepada sahabat portal viral bahwa diagram table tajwid ini cocok sebagai pendamping belajar. Sudah diringkas dalam 1 halaman PDF, sekali membaca terdapat hukum bacaan tajwid yang lengkap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baik itu siswa Madrasah, Santri &#8211; Santri atau khalayak umum bisa menggunakan Diagram ini sebagai bahan / penunjang dalam proses belajar. Tabel Diagram Tajwid Lengkap ini tersedia dalam bentuk PDF agar lebih mudah untuk anda mencetaknya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Agar lebih mudah dalam proses pencetakan sudah kami sediakan file Tabel Diagram Tajwid Lengkap dalam file PDF. Sehingga tidak perlu mengedit kembali, tinggal print saja. Table Diagram Tajwid PDF ini hanya 1 lembar karena memang tujuannya agar lebih mudah dibawa, dipelajari dan simple.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sahabat Portalviral yang membutuhkan file diagram tajwidnya bisa download pada link ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1ADg1WeAuJrHIVSnnyhi-K9incb5odY3U/view?pli=1">Tabel Diagram Tajwid Lengkap 1 lembar.pdf</a> | via Google Drive</p>



<div class="wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-container-core-buttons-is-layout-fe48e5de wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link wp-element-button" href="https://drive.google.com/file/d/1ADg1WeAuJrHIVSnnyhi-K9incb5odY3U/view?pli=1">UNDUH</a></div>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Silahkan download melalui link yang sudah disediakan, apabila link download rusak silahkan hubungi kami. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai seorang muslim sudah seharusnya mempelajari Tajwid karena digunakan untuk membaca Al Qur&#8217;an yang merupakan kitab suci Umat Islam. Untuk mempelajarinya sudah tersedia Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF yang bisa di download secara gratis. Namun, kami sarankan tetap harus ada yang menuntun seperti Ustad, Guru dan Kyai. File Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF hanya sebagai penunjang untuk mempermudah untuk belajar, selebihnya tetap mengikuti penjelasan oleh ahlinya seperti yang sudah disebutkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan mempelajari ilmu Tajwid, seorang pembaca Al-Qur&#8217;an akan dapat menghormati dan menjaga keaslian bacaan Al-Qur&#8217;an serta menyampaikan pesan-pesan Al-Qur&#8217;an dengan baik. Penting untuk dicatat bahwa ilmu Tajwid bukan hanya berkaitan dengan aspek fisik dari bacaan Al-Qur&#8217;an, tetapi juga berhubungan dengan pemahaman dan penghayatan terhadap pesan-pesan Al-Qur&#8217;an. Oleh sebab itu penting untuk dipahami semua muslim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baiklah pembaca setia portalviral, cukup sekian informasi tentang Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF ini. Semoga dapat bermanfaat bagi semuanya dan semoga dapat menjadi inovasi dan inspirasi dalam belajar. Terima Kasih.</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/download-tabel-diagram-tajwid-lengkap-pdf/">Download Tabel Diagram Tajwid Lengkap PDF</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://portalviral.co/download-tabel-diagram-tajwid-lengkap-pdf/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rukun Qiro’ah Al-Quran yang Wajib Diketahui</title>
		<link>https://portalviral.co/rukun-qiroah-al-quran/</link>
					<comments>https://portalviral.co/rukun-qiroah-al-quran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dimas Shandy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 May 2023 21:41:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Qiro’ah Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Rukun Qiro’ah Al-Quran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://portalviral.co/?p=9449</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Rukun-Qiroah-Al-Quran.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Rukun Qiro’ah Al-Quran" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p>Melanjutkan tulisan sebelumnya yaitu tentang tingkatan dalam membaca Al-Quran, pada tulisan kali ini kita akan...</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/rukun-qiroah-al-quran/">Rukun Qiro’ah Al-Quran yang Wajib Diketahui</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Rukun-Qiroah-Al-Quran.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Rukun Qiro’ah Al-Quran" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p class="wp-block-paragraph">Melanjutkan tulisan sebelumnya yaitu tentang <strong><a href="https://portalviral.co/tingkatan-bacaan-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">tingkatan dalam membaca Al-Quran</a></strong>, pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang rukun qiro’ah Al-Quran. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu diketahui bahwa Al-Quran merupakan mukjizat abadi hingga hari kiamat. Dan Allah telah menjamin kemurniannya, ia tak pernah berubah dan tak mengenal distorsi meskipun zaman selalu berubah-ubah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Quran yang ada ditangan kita sekarang adalah Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alayhi wa sallam </em>melalui perantara malaikat Jibril <em>alayhis salam. </em>Kita dapat memastikan hal tersebut karena Al-Quran diambil dengan riwayat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, para ulama menjelaskan kepada kita tentang syarat-syarat diterimanya sebuah qiro’ah yang diriwayatkan tersebut. Jika salah satu rukun dari syaratnya tidak terpenuhi maka qiro’ah tersebut dapat dihukumi <em>syadz </em>(menyimpang). Hal ini tentunya tidak lain merupakan upaya untuk menjaga kemurnian kalamullah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut adalah penjelasan rukun-rukun Qir0’ah Al-Quran yang dijelaskan oleh para ulama:</p>



<h2 class="wp-block-heading">1. Sesuai Dengan Salah Satu Kaidah Bahasa Arab Meskipun Lemah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu Rukun Qiro’ah Al-Quran yang dijelaskan oleh para ulama adalah bacaan harus sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab. Meskipun kaidah tersebut dianggap lemah oleh para ulama. Misalnya qiro’ah Ibnu ‘Amir pada surat Al-An’am ayat 137:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">وَكَذٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيْرٍ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ قَتْلَ اَوْلَادِهِمْ شُرَكَاۤؤُهُمْ لِيُرْدُوْهُمْ وَلِيَلْبِسُوْا عَلَيْهِمْ دِيْنَهُمْۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ<br><br><em>“Dan demikianlah berhala-berhala mereka (setan) menjadikan terasa indah bagi banyak orang-orang musyrik membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka sendiri. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan”</em></p>
<cite>Qs. Al-An’am ayat 137</cite></blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Amir membaca lafazh “<em>zayyana</em>” pada ayat diatas dengan “<em>zuyyina</em>“, yaitu dengan mendhammahkan huruf zay dan mengkasrahkan huruf ya, dalam ilmu sharaf lafazh ini dinamakan dengan <em>bina majhul</em>, kemudian beliau juga membaca lafazh “<em>qotlu</em>” dengan “<em>qotla</em>“, tentunya ini terjadi dikarenakan adanya lafazh dengan bina majhul pada kalimat sebelumnya sehingga lafazh qotl berposisi sebagai na-ibul fa’il, lalu beliau juga membaca lafazh “<em>awlaadihim</em>” dengan “<em>awlaadahum</em>” karena posisinya sebagai maf’ul bih dari lafazh sebelumnya, dan yang terakhir lafazh “<em>syurakaa-uhum</em>” pada ayat diatas beliau membacanya dengan “<em>syurakaa-ihim</em>” dengan alasan <em>mudhaf ilayh</em> dari lafazh “<em>qotlu</em>“.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para ulama menyebutkan bahwa qiro’at Ibnu Amir ini adalah syadz, karena antara lafazh yang berposisi sebagai mudhaf yaitu “<strong>qotlu</strong>” dengan mudhaf ilayh-nya yaitu “<strong>syurakaa-ihim</strong>”. Terdapat frasa penjeda yaitu <em>awlaadahum</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan kasus idhafah yang terjeda seperti ini hanya dapat diaplikasikan khusus zharf (kata keterangan). Atau pada sya’ir orang-orang Arab saja dan tidak dapat di aplikasikan pada selain itu apalagi kalamullah. Inilah yang menyebabkan para ulama mengatakan bahwa qiro’ah Ibnu Amir pada ayat ini adalah syadz (menyimpang). Namun demikian qiro’ah ini tetap dikatakan sah dan diterima oleh para ulama walaupun ulama nahwu mengingkarinya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. Sesuai Dengan Rasm Utsmani Meskipun Secara Ihtimal</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Rukun Qiro’ah Al-Quran yang selanjutnya adalah teks Al-Quran harus sesuai dengan Rasm Utsmani walaupun masih ihtimal. Maksud dari ihtimal adalah qiroah tersebut secara implisit terkandung dalam rasm (tulisan) mushaf.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contohnya adalah qiro’ah pada lafazh ملك يوم الدين “<em>maaliki yaumiddiin</em>” (dengan memanjangkan huruf mim). Padahal jika kita perhatikan mushaf-mushaf Utsmani pada kata ملك tidak ditulis dengan Alif yang berarti mestinya dibaca pendek. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun disana terdapat ihtimal atau kemungkinan lain bahwa huruf mim dibaca panjang karena adanya huruf alif yang dibaca namun tidak ditulis dengan alasan <em>ikthshar</em>, sehingga tulisannya menjadi seperti ini: (مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ).</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. Sanadnya Shahih Secara Mutawatir</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Rukun Qiro’ah Al-Quran yang ketiga adalah bacaan tersebut diriwayatkan secara <a href="https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB_%D9%85%D8%AA%D9%88%D8%A7%D8%AA%D8%B1" target="_blank" rel="noreferrer noopener">mutawatir.</a> Jika suatu bacaan (qiro’ah) telah tsabit secara mutawatir, maka qiro’ah tersebut merupakan qiro’ah yang sah dan dapat dijadikan hujjah (sandaran syar’i). Maka dapat disimpulkan jika suatu qiraah telah tsabit datangnya dari seorang imam secara mutawatir, maka qiraah tersebut adalah sah dan tidak dapat ditolak dengan alasan apapun meskipun dengan alasan qiyas dalam bahasa Arab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Asy-Syathibi&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>berkata: “Tidak ada celah masuk bagi qiyas dalam qiro’ah.” (<strong><em>Diraasatu ‘Ilmit Tajwid lil Mutaqaddimiin</em></strong>, hal. 21)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pembahasan Rukun Qiro’ah Al-Quran, semoga dapat menambah wawasan kita semua terhadap kalamullah. Kita memohon kepada Allah ta’ala agar memudahkan kita semua untuk mempelajari kalamNya yang mulia dan semoga kita semua mendapatkan syafa’at dari Al-Quran pada hari kiamat kelak. Amiin</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/rukun-qiroah-al-quran/">Rukun Qiro’ah Al-Quran yang Wajib Diketahui</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://portalviral.co/rukun-qiroah-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Download Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah</title>
		<link>https://portalviral.co/download-kitab-at-tuhfah-al-wushabiyah/</link>
					<comments>https://portalviral.co/download-kitab-at-tuhfah-al-wushabiyah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dimas Shandy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 May 2023 21:21:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[At-Tuhfah Al-Wushabiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://portalviral.co/?p=9437</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Download-Kitab-At-Tuhfah-Al-Wushabiyah.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Download Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p>Download Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah &#8211; Tahu kitab matan Jurmiyah? Ah, siapa saja yang pernah mencicipi...</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/download-kitab-at-tuhfah-al-wushabiyah/">Download Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Download-Kitab-At-Tuhfah-Al-Wushabiyah.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Download Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p class="wp-block-paragraph">Download Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah &#8211; Tahu kitab matan Jurmiyah? Ah, siapa saja yang pernah mencicipi belajar ilmu nahwu pasti sudah tidak asing lagi dengan nama kitab tersebut. Ya, kitab kecil yang memiliki judul lengkap Muqaddimah Al-Aajurrumiyyah atau seringkali disebut dengan Matan Jurmiyah merupakan sebuah kitab yang wajib dikuasai oleh siapa saja yang ingin mendalami ilmu nahwu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kitab yang ditulis oleh seorang imam besar dalam ilmu nahwu yang bernama Ibnu Ajurum -rahimahullah- ini sudah tak diragukan lagi telah mendapatkan tempat khusus di hati kaum muslimin. Rekomendasi para ulama begitu banyak terhadapnya. Menunjukkan betapa berharganya kitab ini dan bisa dikatakan ia merupakan kitab terbaik untuk dipelajari oleh para pemula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari zaman ke zaman para ulama juga telah menuliskan syarah (penjelasan) terhadap kitab mungil ini, mulai dari syarah yang tipis dan ringkas hingga syarah yang tebal (muthawwal). Tentunya hal ini dilakukan agar kaum muslimin mendapatkan kemudahan dalam mempelajari dan memahami maksud dari penulisnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tentang Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Diantara syarah kontemporer yang paling bagus dalam menjelaskan matan Jurmiyah ini adalah kitab <strong><em>At-Tuhfah Al-Wushabiyah </em></strong>karya Syaikh Ahmad bin Tsabit bin Sa’id Al-Wushabiy -hafizhahullah-, seorang pengajar ilmu Nahwu di Darul Hadits, Dammaj – Yaman.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="300" height="300" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Cover-depan-kitab-At-Tuhfah-Al-Wushabiyah.jpg" alt="Cover depan kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah" class="wp-image-9438" srcset="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Cover-depan-kitab-At-Tuhfah-Al-Wushabiyah.jpg 300w, https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Cover-depan-kitab-At-Tuhfah-Al-Wushabiyah-60x60.jpg 60w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Bagi yang pernah membaca syuruhat (syarah-syarah) dari kitab matn Al-Ajurrumiyyah. Tentunya ia akan mendapatkan banyak sekali perbedaan antara satu kitab syarah dengan kitab syarah lainnya. Meskipun kitab yang disyarah adalah kitab yang sama. Tapi masing-masing kitab syarah memiliki faidah masing-masing yang saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah merupakan salah satu kitab syarah yang memiliki diferensiasi yang cukup banyak daripada syuruhat lainnya. Diantaranya:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Bahasa yang digunakan sangat ringan dan mudah difahami oleh para pemula.</li>



<li>Hampir keseluruhan contoh yang dibawakan oleh penulis berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.</li>



<li>Penulis juga sangat perhatian terhadap akidah yang shahih, terutama dalam pembahasan tauhid asma wa shifat.</li>



<li>Contoh-contoh yang dibawakan juga lebih memperhatikan kepada akhlak mulia. Karenanya dalam kitab ini kita tidak akan dapatkan kalimat: “Zaid memukul Amr”, sebagai contoh penerapan fi’il, fa’il dan maf’ul bih-nya.</li>



<li>Penulis juga membawakan i’rab setiap contoh yang dibawakan pada catatan kaki.</li>



<li>Jika terdapat perbedaan pendapat para ulama dalam hal i’rab, maka penulis selalu menyebutkan pendapat yang lebih shahih.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian beberapa diferensiasi kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah dari syuruhat Matn Al-Ajurrumiyyah yang lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi para pembaca yang ingin mendownload kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah dalam versi ebook dengan format PDF bisa mengunduhnya melalui tombol download dibawah ini:</p>



<h3 class="wp-block-heading">Link Download Kitab Asli (Arabic Version)</h3>



<div data-wp-interactive="core/file" class="wp-block-file"><object data-wp-bind--hidden="!state.hasPdfPreview" hidden class="wp-block-file__embed" data="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/التحفة-الوصابية-في-تسهيل-متن-الآجرومية.pdf" type="application/pdf" style="width:100%;height:600px" aria-label="Embed of التحفة الوصابية في تسهيل متن الآجرومية."></object><a id="wp-block-file--media-aa65502c-6aa4-4242-8d33-675ce6f66bab" href="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/التحفة-الوصابية-في-تسهيل-متن-الآجرومية.pdf" target="_blank" rel="noreferrer noopener">التحفة الوصابية في تسهيل متن الآجرومية</a><a href="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/التحفة-الوصابية-في-تسهيل-متن-الآجرومية.pdf" class="wp-block-file__button wp-element-button" download aria-describedby="wp-block-file--media-aa65502c-6aa4-4242-8d33-675ce6f66bab">Download</a></div>



<h2 class="wp-block-heading">Link Download Kitab Terjemahan</h2>



<div data-wp-interactive="core/file" class="wp-block-file"><object data-wp-bind--hidden="!state.hasPdfPreview" hidden class="wp-block-file__embed" data="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Terjemah-At-Tuhfah-Al-Wushabiyyah.pdf" type="application/pdf" style="width:100%;height:600px" aria-label="Embed of Terjemah At-Tuhfah Al-Wushabiyyah."></object><a id="wp-block-file--media-df453216-f356-4ba2-b6ee-61b7816d49dd" href="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Terjemah-At-Tuhfah-Al-Wushabiyyah.pdf">Terjemah At-Tuhfah Al-Wushabiyyah</a><a href="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2023/05/Terjemah-At-Tuhfah-Al-Wushabiyyah.pdf" class="wp-block-file__button wp-element-button" download aria-describedby="wp-block-file--media-df453216-f356-4ba2-b6ee-61b7816d49dd">Download</a></div>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga</strong>: <strong><a href="https://portalviral.co/biografi-imam-ibnu-malik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Biografi Imam Ibnu Malik – Pengarang Kitab Al-Fiyah</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Anda juga bisa membaca kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah di bagian akhir dari tulisan ini, tanpa harus mendownloadnya. Semoga Allah berikan balasan berupa kebaikan yang banyak untuk penulisnya. Amiiin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian artikel seputar Download Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah, semoga bermanfaat&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selamat membaca!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber Asli Artikel: Qorthrunadaa Learning Centre</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/download-kitab-at-tuhfah-al-wushabiyah/">Download Kitab At-Tuhfah Al-Wushabiyah</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://portalviral.co/download-kitab-at-tuhfah-al-wushabiyah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Banyak Khatam atau Tadabur, Mana yang Lebih Baik?</title>
		<link>https://portalviral.co/banyak-khatam-atau-tadabur-mana-yang-lebih-baik/</link>
					<comments>https://portalviral.co/banyak-khatam-atau-tadabur-mana-yang-lebih-baik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2022 14:47:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Agama Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://portalviral.co/?p=4387</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/12/Banyak-Khatam-atau-Tadabur-Mana-yang-Lebih-Baik_.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Artikel Banyak Khatam atau Tadabur, Mana yang Lebih Baik?" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p>“Mana Yang Lebih Baik Di Bulan Ramadhan? Banyak Khatam Ataukah Membaca Dengan Perlahan Disertai Dengan...</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/banyak-khatam-atau-tadabur-mana-yang-lebih-baik/">Banyak Khatam atau Tadabur, Mana yang Lebih Baik?</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/12/Banyak-Khatam-atau-Tadabur-Mana-yang-Lebih-Baik_.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Artikel Banyak Khatam atau Tadabur, Mana yang Lebih Baik?" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p class="wp-block-paragraph">“Mana Yang Lebih Baik Di Bulan Ramadhan? Banyak Khatam Ataukah Membaca Dengan Perlahan Disertai Dengan Tadabur?”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan diatas tidaklah terlintas melainkan dari mereka yang mengharapkan kebaikan, pahala serta keberkahan di bulan yang penuh dengan kemuliaan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, begitulah semestinya seorang muslim. Mencari mana yang lebih utama dari dua amalan yang utama lalu mengamalkan yang paling utama dari keduanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mana yang Lebih Baik: Banyak Khatam atau Tadabur?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hal ini Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>pernah berkata dalam kitab beliau&nbsp;&#8220;<em>Zaadul Ma’aad Fii Hadyi Khairil ‘Ibaad</em>&#8221;&nbsp;(1/327):</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sungguh manusia telah berselisih tentang mana yang lebih utama, membaca (Al-Qur’an) dengan tartil tapi sedikit ataukah cepat akan tetapi banyak. Mana yang lebih afdhal? Dalam hal ini ada dua pendapat:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1. Lebih Baik Membaca Sedikit Tapi Tartil</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat yang pertama yaitu pendapat yang dipegang oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas dan selain keduanya&nbsp;<em>rahimahumallah</em>&nbsp;bahwasanya tartil disertai tadabur walaupun sedikit lebih baik (utama) daripada membaca dengan cepat meskipun banyak (khatam).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang-orang yang yang berpendapat ini berhujjah bahwasanya tujuan dari membaca adalah memahaminya, mentadabburinya, mempelajarinya dan mengamalkannya. Selain itu membaca serta mengamalkannya adalah sarana untuk dapat (memahami-pent) maknanya sebagaimana berkata sebagian salaf:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">نزل القرآن ليعمل به فاتخذوا تلاوته عملا</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">“Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, maka jadikanlah membacanya sebagai bentuk mengamalkannya”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karenanya, Ahlul Qur’an adalah orang-orang yang mengetahui dan mengamalkannya meskipun mereka tidak menghafalnya. Adapun orang yang menghafalnya akan tetapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkan kandungannya maka bukanlah Ahlul Qur’an. Meskipun ia telah menegakkan (hak-hak) huruf-hurufnya seperti menegakkan anak panah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka berkata: ‘Dan inilah petunjuk Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,&nbsp;</em>beliau men<em>tartil-</em>kan suatu surah hingga&nbsp;surah itu menjadi lebih panjang daripada surah yang lebih panjang darinya dan beliau berdiri (membaca) satu ayat sampai shubuh”.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga</strong>: <strong><a href="https://portalviral.co/adab-adab-membaca-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Adab Terbaik Saat Membaca Al-Qur&#8217;an</a></strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">2. Banyak Membaca Lebih Baik</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Dan telah berkata para pembesar madzhab Asy-Syafi’i rahimahullah: </p>



<blockquote class="wp-block-quote has-text-align-center is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">‘<em>Banyak membaca lebih baik</em>’ </p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dan mereka berhujjah dengan hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>&nbsp;bersabda:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">من قرأ حرفا من كتاب الله ، فله به حسنة ، والحسنة بعشر أمثالها ، لا أقول “الم” حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, dan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan “<em>Alif Laam Miim</em>” itu satu huruf, akan tetapi&nbsp;<em>“Alif”&nbsp;</em>&nbsp;satu huruf&nbsp;<em>“Laam”</em>&nbsp;satu huruf dan&nbsp;<em>“Miim”</em>&nbsp;satu huruf. (HR. At-Tirmidzi, beliau menshahihkannya).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka berkata: ‘Dan karena ‘Utsman bin ‘Affan membaca (seluruh) Al-Qur’an dalam satu rakaat’. Merekapun menyebutkan atsar-atsar yang berasal dari banyak kaum salaf yang memperbanyak bacaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan pendapat yang benar dalam masalah ini adalah: Bahwasanya pahala bacaan tartil dan tadabbur lebih agung dan lebih tinggi tingkatannya (pahalanya), dan pahala banyaknya bacaan itu lebih banyak jumlah (pahalanya).</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Maka (jenis) yang pertama itu bagaikan seseorang yang bershadaqah dengan berlian yang besar atau seperti membebaskan budak dengan harga yang mahal sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun yang kedua bagaikan seseorang yang bershadaqah dengan jumlah dirham yang banyak atau membebaskan banyak budak tapi yang harganya murah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Shahih Al-Bukhary dari Qotadah, ia berkata: ‘Aku bertanya kepada Anas tentang bacaan Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka beliau berkata: ‘Beliau membacanya dengan memanjangkan bacaan yang panjang’.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan telah berkata Asy-Syu’bah: Telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah, ia berkata: Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang membaca dengan cepat, mungkin aku membaca (seluruh) Al-Qur’an dalam satu malam sekali atau dua kali (khatam). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Benar-benar aku membaca satu surat lebih kukagumi daripada aku melakukan apa yang telah engkau lakukan, apabila engkau melakukannya dan itu sudah pasti, maka bacalah dengan bacaan yang terdengar oleh kedua telingamu dan meresap ke hatimu’.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan telah berkata Ibrahim (An-Nakha’iy): ‘Alqamah membacakan (Al-Qur’an) kepada Ibnu Mas’ud, dan ia adalah orang yang, maka beliau berkata: Tartilkanlah! ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, sesungguhnya ia (tartil) adalah keindahan Al-Qur’an’.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Telah berkata Ibnu Mas’ud: ‘Janganlah kalian membaca Al-Qur’an dengan tergesa-gesa sebagaimana membaca sya’ir, dan janganlah kalian membacanya seperti kurma yang rontok berhamburan, dan berhentilah sejenak (untuk menghayati) keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati-hati kalian dengannya, dan janganlah akhir surat menjadi tujuan salah seorang dari kalian’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan berkata ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud) juga: “Apabila engkau mendengar Allah berfirman: ‘<em>Wahai orang-orang yang beriman’</em>&nbsp; maka fokuskanlah pendengaranmu padanya, karena ia adalah sebaik-baik (perintah) yang engkau diperintahkan dengannya atau keburukan yang engkau akan dipalingkan darinya’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan berkata ‘Abdurrahman bin Abi Laila: ‘Telah masuk kepadaku seorang wanita, tatkala itu aku sedang membaca surat Huud, iapun berkata (kepadaku): ‘Wahai ‘Abdurrahman, apakah seperti ini engkau membaca surat Huud?’. Demi Allah, aku bersamanya selama enam bulan, dan aku belum selesai membacanya’. (selesai kutipan)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga Allah memberkahi seluruh waktu kita hingga dapat mengoptimalkan ibadah di bulan yang mulia ini.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">[Heri Suheri – perum Trias Estate, 1 Ramadhan 1439, menjelang berbuka]</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/banyak-khatam-atau-tadabur-mana-yang-lebih-baik/">Banyak Khatam atau Tadabur, Mana yang Lebih Baik?</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://portalviral.co/banyak-khatam-atau-tadabur-mana-yang-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tajwid Menurut Ibnul Jazari</title>
		<link>https://portalviral.co/tajwid-menurut-ibnul-jazari/</link>
					<comments>https://portalviral.co/tajwid-menurut-ibnul-jazari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2022 17:51:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Agama Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://portalviral.co/?p=4355</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/12/Tajwid-Menurut-Ibnul-Jazari.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Gambar Tajwid Menurut Ibnul Jazari" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p>Tajwid menurut Ibnul Jazari telah dijelaskan oleh beliau sendiri di salah satu kitab tulisan beliau yang...</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/tajwid-menurut-ibnul-jazari/">Tajwid Menurut Ibnul Jazari</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/12/Tajwid-Menurut-Ibnul-Jazari.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Gambar Tajwid Menurut Ibnul Jazari" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p class="wp-block-paragraph">Tajwid menurut Ibnul Jazari telah dijelaskan oleh beliau sendiri di salah satu kitab tulisan beliau yang fenomenal, yaitu Manzhumah Jazariyyah. Siapa saja yang pernah mempelajari matan tajwid pastilah kenal dengan seorang ‘alim yang bernama <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnul_Atsir_al-Jazari" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Ibnul Jazari</a>. Ya, beliau adalah salah seorang imam dalam ilmu tajwid dan qiro’ah. Bahkan rasanya tak berlebihan jika seandainyapun ada yang menjuluki beliau dengan julukan ‘Bapak’ Ilmu Tajwid. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas apakah yang dimaksud dengan tajwid menurut beliau rahimahullah? Untuk menjawab pertanyaan diataslah tulisan ini kami susun. Semoga bermanfaat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa Ibnul Jazari?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seringkali suatu ucapan ditolak mentah-mentah hanya karena orang yang mendengarnya tidak memiliki cukup pengetahuan tentang sosok yang mengucapkannya. Karenanya muncul satu pepatah; “tak kenal maka tak sayang.” </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, sebelum membahas tentang tajwid menurut Ibnul Jazari, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu siapa beliau, agar kita lebih siap untuk ‘mengosongkan gelas’.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nama asli beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Yusuf Ad-Dimasyqi, namun lebih dikenal dengan nama Ibnul Jazari, nisbah kepada pulau kecil (jazirah) di perbatasan Suriah dan Turki, yaitu&nbsp;<em>Jazirah Ibnu ‘Umar</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dilahirkan pada tanggal 25 Ramadhan 751 H di kota Damaskus, Suriah dan telah hafal Al-Qur’an sejak usia 13 tahun, lalu mengimami manusia di umur 14 tahun. Beliau mempelajari Al-Qur’an dan Qira’ah Sab’ah di Damaskus lalu melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya dengan melakukan rihlah ke daerah Hijaz dan Mesir untuk bertalaqqi kepada para raksasa ilmu di zamannya, salah satu guru beliau adalah Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah yang telah memberikan beliau ijazah ifta’ (rekomendasi untuk berfatwa) pada tahun 774 H.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian beliau melanjutkan rihlahnya, namun kali ini dalam rangka mengajar. Beliau mengunjungi banyak kota untuk mengajar mulai dari Samakand, Khurasan, Asfahan, Syiraz, Irak, Bashrah, Unaizah, Mekkah dan Yaman, lalu kembali ke Damaskus kemudian wafat disana pada tahun 833 H.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tajwid Menurut Ibnul Jazari</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ilmu tajwid beliau merupakan salah satu ulama yang dijadikan rujukan oleh kaum muslimin hingga hari ini. Karena kedalaman ilmu beliau bak samudera yang sangat luas dalam ilmu ini maka warisan beliau berupa kitab-kitab tulisan beliau dipelajari dan diajarkan dari masa kemasa, diantaranya adalah kitab beliau;&nbsp;<em>Manzhumah Al-Jazariyyah</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab&nbsp;<em>Manzhumah Jazariyyah</em>&nbsp;terdapat satu bab khusus yang beliau beri nama Bab Tajwid. Maka tulisan ini sejatinya adalah merupakan penjelasan dari bait-bait sya’ir yang beliau susun pada bab tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut adalah Tajwid Menurut Ibnul Jazari<em>:</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">باب التجويد</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;وَالأَخْـذُ بِالتَّـجْـوِيـدِ حَـتْــمٌ لازِمُ *** مَــنْ لَــمْ يُـجَـوِّدِ الْـقُـرَانَ آثِــمُ<br>&nbsp;لأَنَّــهُ بِـــهِ الإِلَـــهُ أَنْـــزَلاَ *** وَهَـكَـذَا مِـنْـهُ إِلَـيْـنَـا وَصَـــلاَ<br>&nbsp;وَهُـوَ أَيْـضًـا حِـلْيَـةُ الـتِّـلاَوَةِ *** وَزِيْــنَـــةُ الأَدَاءِ وَالْــقِـــرَاءَةِ<br>&nbsp;وَهْـوَ إِعْـطَـاءُ الْـحُـرُوفِ حَقَّـهَـا *** مِــنْ صِـفَـةٍ لَـهَـا وَمُستَحَـقَّـهَـا<br>&nbsp;وَرَدُّ كُـــلِّ وَاحِـــدٍ لأَصْـلِــهِ *** وَاللَّـفْـظُ فِــي نَـظِـيْـرِهِ كَمِـثْـلـهِ<br>&nbsp;مُكَمَّـلاً مِـنْ غَـيْـرِ مَــا تَكَـلُّـفِ *** بِاللُّطْـفِ فِـي النُّطْـقِ بِــلاَ تَعَـسُّـفِ<br>&nbsp;وَلَـيْـسَ بَـيْـنَـهُ وَبَـيْـنَ تَـرْكِـهِ *** إِلاَّ رِيَـاضَــةُ امْـــرِئٍ بِـفَـكِّــهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Dan mengamalkan tajwid hukumnya wajib secara mutlak bagi seluruh muslim mukallaf. Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al-Quran, maka ia berdosa.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Hukum Mengamalkan Tajwid</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Imam Ibnul Jazariy&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;berkata dalam&nbsp;<em>Manzhumah Jazariyyah</em>:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">وَٱلأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتمٌ لَازِمُ *** مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ ٱلْقُرَانَ آثِمُ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dan mengamalkan tajwid hukumnya wajib secara mutlak bagi seluruh muslim mukallaf. Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al-Quran, maka ia berdosa.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui bait ini Imam Ibnul Jazari&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;ingin menegaskan dalam syairnya bahwa mengamalkan tajwid saat membaca Al-Qur’an merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Namun, dalam permasalahan ini terdapat perincian, khususnya berkaitan dengan mencapai kesempurnaan bacaan dan tajwid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini diperkuat oleh riwayat yang datang dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anha</em>, bahwa Rasulullaah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;bersabda :</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Seorang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para Malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah. Adapun yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan masih terasa sulit atasnya bacaan tersebut, maka baginya dua pahala.” [HR. Muslim]</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik dari riwayat tersebut diantaranya:&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Keutamaan di sisi Allah&nbsp;<em>subhanahu wa ta’ala</em>&nbsp;dan pahala yang sangat besar bagi orang-orang yang mahir membaca Al-Qur’an. Merekalah yang dinamakan dengan&nbsp;<em>muhsin ma’jur.</em></li>



<li>Keutamaan dan dua pahala bagi mereka yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata namun tidak berhenti belajar, mereka adalah&nbsp;<em>musii’ ma’dzur</em>&nbsp;(orang yang tersalah dan dimaafkan)</li>



<li>Analogi terbalik dari riwayat diatas adalah orang yang tidak mahir membaca Al-Qur’an dan tidak mau belajar untuk memperbaikinya maka bagi mereka adalah keburukan, merekalah yang dinamakan dengan&nbsp;<em>musii’ aatsim</em>&nbsp;(orang yang salah dan berdosa).</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun demikian, diperbolehkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an dengan kualitas yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan keadaannya. Misalnya saat ia membaca Al-Qur’an sendirian, ia membacanya dengan kualitas yang biasa-biasa saja, namun ketika ia bertalaqqi di hadapan guru ia membacanya dengan sangat hati-hati dan berusaha untuk memperdengarkan bacaan terbaiknya. Hal ini diperbolehkan dan tidaklah termasuk perbuatan dosa</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat tentang bacaan Abu Musa Al-Asy’ari&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu&nbsp;</em>saat Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;mendengarkan bacaan Abu Musa pada suatu malam tanpa sepengetahuannya, lalu keesokan harinya beliau&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam&nbsp;</em>mengabarkan kepada Abu Musa tentang apa yang beliau dengar di malam tadi:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">لَقَدْ أُوتِى هَذَا مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيْرِ آلِ دَاوُدَ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Sungguh ia telah diberi keindahan suara sebagaimana keindahan suara keturunan Nabi Daud.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Abu Musa mendengar hal itu dan saat itu ia tidak menyadari bahwa Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam&nbsp;</em>menyimak bacaannya tadi malam, iapun berkata:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">لَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ أََنَّكَ كُنْتَ تَسْمَعُ &nbsp;قِرَاءَتِى لَحَبَّرْتُهُ لَكَ تَحْبِيْرًا</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Andai aku tahu engkau sedang mendengarkannya, tentu aku akan benar-benar lebih memperindah bacaannya.”</em>&nbsp;[HR. Al-Bukhari 5048, Muslim 793]</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadits diatas memeberikan faidah kepada kita bahwa bacaan sahabat Abu Musa Al-Asy’ari&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu&nbsp;</em>ketika sendirian bukanlah bacaan terbaiknya, dan beliau&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu</em>&nbsp;masih bisa membaca dengan bacaan yang lebih baik dari itu, namun tak beliau lakukan. Ini menunjukkan bahwa dibolehkan bagi seseorang membaca Al-Qur’an dengan kualitas dibawah kualitas bacaan yang biasa diperdengarkan saat ia<em>&nbsp;talaqqi&nbsp;</em>kepada guru, tentunya dengan syarat bacaannya tidak melanggar aturan dalam ilmu tajwid dan tidak terdapat&nbsp;<em>lahn</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun jika dalam konteks talaqqi dihadapan guru maka kita harus berusaha memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kita dengan kualitas terbaiknya, kita kerahkan seluruh kemampuan kita untuk melafalkan huruf-hurufnya sesuai dengan menunaikan hak dan mustahaknya baik dari sisi makhraj dan shifatnya serta hukum-hukum tajwidnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari sini dapat kita simpulkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan kualitas dibawah sempurna selama tidak melanggar kaidah-kaidah dalam ilmu tajwid tidaklah berdosa dan tidak termasuk kedalam golongan orang yang disebutkan oleh Imam Ibnul Jazari dalam bait sya’irnya:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ ٱلْقُرَانَ آثِمُ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al-Quran, maka ia berdosa.”</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Allah Menurunkan Al-Qur&#8217;an Dengan Tajwid</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian pada bait selanjutnya Imam Ibnul Jazariy&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>menyebutkan alasan mengapa membaca Al-Qur’an wajib dengan tajwid;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">لِاًنَّهُ بِهِ الاِلَهُ أَنْزَلاَ *** وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وصَلاَ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Karena bersama dengan tajwid Allah menurunkan Al-Qur’an dan cara membacanya, dan bersama dengan tajwid pula Al-Qur’an dan cara membacanya Al- Qur’an dari-Nya sampai kepada kita.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perhatikan bagian akhir dari dua potongan bait diatas. Imam Ibnul Jazariy&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>menambahkan Alif Tatsniyah (Alif yang menunjukan kepada makna dualis) yaitu pada kata أنزلا (anzalaa) dan pada kata وصلا (washalaa). Sebagaimana yang difahami dalam bahasa Arab; jika ada fi’il (kata kerja) yang ditambah dengan alif tatsniyah maka subjeknya bermakna ganda. Sehingga sebagian ulama yang menjelaskan bait diatas menyebutkan bahwa bersama tajwid Allah menurunkan dua hal yang keduanya telah sampai kepada kita, yaitu:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Al-Qur’an dalam arti teks-nya</li>



<li>Al-Qur’an dalam arti cara membacanya</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan dari pemahaman ini maka disimpulkan bahwa Allah menjaga Al-Qur’an dari dua sisi;&nbsp;<strong>penjagaan dari sisi teksnya</strong>&nbsp;dan&nbsp;<strong>penjagaan dari sisi cara membacanya</strong>. Keduanya tidak akan mengalami perubahan hingga hari kiamat tiba, karena akan senantiasa ada orang-orang yang Allah pilih mereka untuk mempelajari dan mengajarkan dua hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Quran diturunkan dengan Bahasa Arab yang jelas lagi terang. Sedangkan kaidah-kaidah ilmu tajwid hakikatnya adalah kaidah-kaidah bahasa Arab itu sendiri. Bila kita tidak menjaga kaidah tajwid, maka sama artinya kita tidak menjaga kaidah Bahasa Arab yang dengannya Al-Quran diturunkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kaidah Tajwid Menurut Syaikh Ayman Rusydi Suwaid <em>hafizhahullah</em></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Syaikh Ayman Rusydi Suwaid <em>hafizhahullah</em> mengatakan bahwa seluruh kaidah tajwid adalah <em>thabi’i</em> (berasal kaidah bahasa Arab), kecuali empat hal saja, diantaranya:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1. Kadar panjang mad yang lebih dari dua harakat</h3>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Mad asli</em>&nbsp;yang panjangnya dua harakat merupakan&nbsp;<em>thabi’i</em>, bawaan orang Arab yang merupakan bagian dari kaidah Bahasa Arab. Sedangkan mad yang lebih dari dua harakat tidak dikenal dalam Bahasa Arab dan hanya ada dalam Al-Qur’an.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2. Panjangnya ghunnah</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Yaitu panjangnya bacaan saat menahan ghunnah. Sebagaimana diketahui bersama bahwa ketika seorang qari’ membaca bacaan ghunnah, maka ia akan menahan bacaannya sejenak (sekadar lebih dari dua harakat). Proses menahan pada bacaan ghunnah inilah yang bukan bagian dari thabi’i atau bawaan orang Arab ketika berbicara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan: Perlu dibedakan antara menahan bacaan ghunnah dengan ghunnah itu sendiri. Ghunnah itu sendiri merupakan bagian dari tabiat asli orang-orang Arab. Saat melafalkan huruf nun dan mim bertasydid misalnya, mereka membacanya dengan ghunnah dalam percakapan mereka. Yang bukan tabi’at mereka adalah memanjangkan bacaan ghunnah tersebut sebagaimana kita memanjangkannya saat membaca Al-Qur’an.</p>



<h3 class="wp-block-heading">3. Saktah</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Saktah artinya berhenti sejenak tanpa mengambil nafas, lalu melanjutkan bacaan kembali. Berbeda dengan&nbsp;<em>waqaf</em>, yang berhenti untuk mengambil nafas atau menyudahi bacaan. Saktah dalam percakapan Bahasa Arab tidak berlaku. Saktah hanya berlaku pada saat membaca Al- Qur’an. Oleh karena itu, saktah bukanlah merubakan tabiat asli orang-orang Arab.</p>



<h3 class="wp-block-heading">4. Tahsin Tilawah</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Demikin juga dalam tahsinut tilawah atau yang biasa kita kenal dengan istilah nada/senandung bacaan ketika membaca Al-Qur’an. Ini juga bukan merupakan thabi’i.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misalnya ketika orang-orang Arab bertanya; “Siapa yang melakukan ini?”, mereka akan mengatakan dalam bahasa mereka:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">“مَنْ يَفْعَلُ هَذَا؟”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun tentunya mereka mengucapkan kalimat tersebut tidak menggunakan nada atau senandung sebagaimana mereka membaca Al-Qur’an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain keempat hal yang <em>telah disebutkan, semuanya thabi’i</em> (berasal dari kebiasaan percakapan orang-orang Arab yang hidup pada masa nubuwwah). Wallaahu a’lam.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tilawah, Adaa dan Qira&#8217;ah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian pada bait selanjutnya Imam Ibnul Jazariy&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>juga menyebutkan alasan lain mengapa membaca Al-Qur’an wajib dengan tajwid;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"> وَهُـوَ أَيْـضًـا حِـلْيَـةُ الـتِّـلاَوَةِ *** وَزِيْــنَـــةُ الأَدَاءِ وَالْــقِـــرَاءَةِ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dan tajwid juga merupakan perhiasannya tilawah, serta hiasannya adaa dan qiraah.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara alasan lain mengapa Al-Imam Ibnul Jazariy berpendapat bahwasanya mentajwidkan Al-Quran merupakan kewajiban adalah sebagaimana yang diungkapkan dalam syairnya. Ia adalah sebaik-baik perhiasan saat membaca Al-Quran. Dalam bait diatas ada beberapa istilah yang secara umum bermakna sama, namun secara khusus memiliki makna tersendiri.</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><em><strong>Tilawah</strong></em>: artinya mengikuti atau mutaba’ah. Maknanya adalah membaca Al-Quran secara rutin seperti tadarrus/ wirid harian/ muraja’ah. Istilah tilawah hanya berlaku bagi Al-Quran dan ini adalah kekhususan baginya.</li>



<li><strong><em>Adaa</em></strong>: artinya membacakan Al-Quran di hadapan seorang Muqri, ber-talaqqi kepadanya, dan mengambil riwayat darinya.</li>



<li><strong><em>Qira’ah</em></strong>: maknanya membaca, lebih umum daripada tilawah dan adaa. Tilawah dan adaa termasuk ke dalam qiraah. Tapi tidak setiap qiraah bermakna tilawah dan adaa. Qiraah juga digunakan pada selain Al-Quran, seperti&nbsp;<em>qiraatul hadits</em>&nbsp;(membaca hadits) atau&nbsp;<em>qiraatul kitaab</em>&nbsp;(membaca buku).</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, mempraktikan tajwid saat membaca Al-Quran berlaku di manapun dan kapanpun. Baik pada saat tilawah, adaa, maupun qiraah biasa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Definisi Tajwid</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada bait selanjutnya Imam Ibnul Jazariy&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>menyebutkan definisi tajwid dengan sangat detail;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&nbsp;وَهْـوَ إِعْـطَـاءُ الْـحُـرُوفِ حَقَّـهَـا *** مِــنْ صِـفَـةٍ لَـهَـا وَمُستَحَـقَّـهَـا</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&nbsp;وَرَدُّ كُـــلِّ وَاحِـــدٍ لأَصْـلِــهِ&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dan Tajwid adalah memberikan kepada huruf hak-haknya, dari sifat-sifatnya dan mustahaknya,</em><br><em>Dan mengembalikan setiap huruf kepada asalnya (makhrajnya),”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Pada bait-bait ini Al-Imam Ibnul Jazariy mendefinisikan tajwid dengan begitu rinci. Beliau mendefinisikan tajwid dengan “memberikan hak dan mustahak huruf, serta mengembalikan huruf kepada makhrajnya.” Hak huruf adalah sifat-sifat lazim yang dimiliki oleh huruf, yaitu sifat asli yang senantiasa menyertai huruf seperti hams, jahr, syiddah, rakhawah, qalqalah, dan sebagainya. Sedangkan mustahak huruf adalah sifat yang sewaktu-waktu menyertai huruf tertentu seperti: sifat tafkhim (suara tebal), tarqiq (suara tipis), dan hukum-hukum yang terjadi akibat hubungan antar huruf</p>



<h2 class="wp-block-heading">Konsistensi Dalam Bacaan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada bait selanjutnya Imam Ibnul Jazariy&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>menjelaskan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencapai kesempurnaan dalam tajwid;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">وَاللَّـفْـظُ فِــي نَـظِـيْـرِهِ كَمِـثْـلـهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dan lafazh yang sama mesti diucapkan dengan konsisten sebagaimana awalnya.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Maksudnya adalah pada lafazh-lafazh yang sama hukumnya, maka mesti diperlakukan serupa, tidak membeda-bedakan satu sama lainnya (dalam sekali baca). Misalnya kita membaca mad wajib dengan 5 (lima) harakat pada satu ayat, maka bila bertemu dengan mad wajib di ayat yang lain, kita harus membacanya 5 (lima) harakat, dengan hitungan yang sama. Begitu pun pada hukum-hukum yang lain. Dalam istilah ilmiah, pemerataan dan konsistensi dalam mengaplikasikan hukum-hukum yang berlaku dikenal dengan&nbsp;<em>Tawhiidul Manhaj</em>.<br><br>Salahsatu kesalahan yang sering terjadi pada para pembaca Al-Quran, khususnya para imam dalam shalat berjamaah adalah tidak konsisten dalam membaca&nbsp;<em>mad ‘aridh lissukuun</em>. Yakni mad yang diakibatkan adanya huruf terakhir yang dibaca sukun di akhir kalimat atau akhir bacaan. Sebagaimana kita ketahui, bahwa panjang mad ‘aridh lissukuun adalah boleh memilih antara 2, 4, atau 6 harakat. Namun, bukan berarti kita bebas memilih dalam sekali baca. Cara yang benar adalah memilih satu wajah saja dalam sekali duduk saat membaca Al-Quran, atau dalam satu rakaat shalat. Sehingga bila kita membaca&nbsp;<em>basmalah</em>&nbsp;dengan&nbsp;<em>mad ‘aridh</em>&nbsp;2 harakat, maka kita tidak boleh memanjangkannya menjadi 4 atau 6 harakat pada ayat terakhir Al-Fatihah, atau pada akhir bacaan sebelum ruku’.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Membebani Diri Secara Berlebihan Saat Membaca Al-Quran</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada bait selanjutnya Imam Ibnul Jazariy&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>menyebutkan definisi tajwid dengan sangat detail;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&nbsp;مُكَمَّـلاً مِـنْ غَـيْـرِ مَــا تَكَـلُّـفِ *** بِاللُّطْـفِ فِـي النُّطْـقِ بِــلاَ تَعَـسُّـفِ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Membacanya dengan sempurna tanpa berlebih-lebihan, dengan pengucapan yang lembut tanpa serampangan,”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang telah beliau jelaskan dari mulai memberikan huruf hak dan mustahaknya, mengembalikan setiap huruf kepada makhrajnya, dan konsisten dalam setiap bacaan, ditujukan untuk menyempurnakan bacaan agar sesuai, atau minimal mendekati sebagaimana bacaan Al-Quran pada saat pertama kali diturunkan. Bukan untuk menjadikannya sebagai beban dan membuat kita membacanya berlebihan. Bahkan dalam pengucapannya, kita mesti melatih lisan agar bisa mengalirkan suara dan lafazh-lafazh Al-Quran dengan lembut, ringan, dan mengalir. Tanpa harus dibuat-buat sehingga terkesan kaku, keras, dan menghentak-hentak.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga</strong> : <a href="https://portalviral.co/adab-adab-membaca-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Adab-Adab Membaca Al-Qur’an</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Syaikh Ayman Rusydi Suwaid&nbsp;<em>hafizhahullah</em>&nbsp;menjelaskan bahwa&nbsp;<em>takalluf</em>&nbsp;(beban) itu terbagi menjadi dua:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Takalluf yang disyariatkan</strong><em><strong>&nbsp;(mathlub)</strong></em>, yaitu berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkan lafazh demi lafazh hingga tercapai bahasa yang paling fasih.</li>



<li><strong>Takalluf yang tercela&nbsp;<em>(madzmum)</em></strong>, yaitu berlebih-lebihan dalam mengucapkan lafazh demi lafazh hingga setiap ucapan terkesan dibuat-buat, kaku, dan tidak enak didengar.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Sesungguhnya, sebagaimana perkataan Al-Imam Abu Muzahim dalam <em>Qashidah Khaqaniyah</em> bahwa setiap huruf memiliki mizan (timbangan/ bobot) yang mesti ditunaikan sesuai dengan bobotnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila, misalnya, satu huruf memiliki bobot 1 kg, maka kita wajib menunaikannya 1 kg, tidak menguranginya juga tidak berlebihan atasnya. Mentajwidkan Al-Quran artinya membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah yang berlaku. Bila mad asli panjangnya dua harakat, maka jangan jadikan ia tiga, empat, apalagi enam harakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian orang yang baru belajar tajwid kadang berlebihan dalam usahanya memperoleh kesempurnaan bacaan sehingga ia memberikan bobot yang lebih dari apa yang semestinya. Kadangkala ia malah mengurangi apa yang semestinya diberikan. Ketahuilah bahwasanya mentajwidkan Al-Quran bukan berarti berlebihan dalam mad, juga bukan berarti:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>memanjangkan yang bukan mad,</li>



<li>menambah Hamzah setelah mad,</li>



<li>mengucapkan huruf seperti orang mabuk,</li>



<li>mengucapkan Hamzah seperti orang muntah,</li>



<li>menambah suara lain dari hidung,</li>



<li>mengurangi suaranya, seperti pada ghunnah</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Latihan dan Praktik Adalah Kunci Keberhasilan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada bait terakhir dari bab Tajwid ini Imam Ibnul Jazariy&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>the key of success dalam membaca Al-Qur’an dengan tajwid yg bagus;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&nbsp;مُكَمَّـلاً مِـنْ غَـيْـرِ مَــا تَكَـلُّـفِ *** بِاللُّطْـفِ فِـي النُّطْـقِ بِــلاَ تَعَـسُّـفِ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dan tidak ada yang membedakan antara orang yang mengamalkan tajwid dengan orang yang meninggalkannya,</em><br><em>Kecuali latihan terus menerus secara konsisten dengan lisannya.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, seseorang yang mempelajari tajwid tidak akan mendapatkan apa-apa. Ia tidak akan berbeda dengan orang yang tidak mempelajari tajwid kecuali bila ia rajin melatih ilmu yang dipelajarinya dengan konsisten dan diiringi dengan kesabaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu saja, latihan untuk mendapatkan hasil yang sempurna tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, khususnya bagi mereka yang berasal dari luar Arab. Sejak di dalam kandungan hingga sanggup mengenal dunia mereka tidak mengenal bahasa dan dialek kecuali apa yang biasa ia dengar dan ia ucapkan. Lalu, tiba-tiba ia harus belajar mengucapkan sesuatu yang tidak biasa ia ucapkan dengan dialek yang tidak biasa ia praktikkan.&nbsp;Namun, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Tinggal bagaimana usaha setiap orang untuk selalu meningkatkan kemampuannya dan tidak pernah berputus asa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian sedikit coretan kami tentang Tajwid Menurut Ibnul Jazari semoga membawa manfaat untuk para pembaca sekalian.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sumber</strong>:<br>Tajwidul Qur’an Metode Jazary Jilid. 1 karya sahabat kami Abu Ezra Laili Al-Fadhli dengan sedikit tambahan dan perubahan.</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/tajwid-menurut-ibnul-jazari/">Tajwid Menurut Ibnul Jazari</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://portalviral.co/tajwid-menurut-ibnul-jazari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biografi Imam Ibnu Malik &#8211; Pengarang Kitab Al-Fiyah</title>
		<link>https://portalviral.co/biografi-imam-ibnu-malik/</link>
					<comments>https://portalviral.co/biografi-imam-ibnu-malik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dimas Shandy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2022 12:56:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Agama Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://portalviral.co/?p=3992</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Biografi-Imam-Ibnu-Malik-Pengarang-Kitab-Al-Fiyah.png" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Artikel Biografi Imam Ibnu Malik - Pengarang Kitab Al-Fiyah" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p>Biografi Imam Ibnu Malik &#8211; Siapa saja yang mendalami ilmu Nahwu pastilah mengetahui kitab&#160;Alfiyah Ibnu...</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/biografi-imam-ibnu-malik/">Biografi Imam Ibnu Malik &#8211; Pengarang Kitab Al-Fiyah</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="622" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Biografi-Imam-Ibnu-Malik-Pengarang-Kitab-Al-Fiyah.png" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Artikel Biografi Imam Ibnu Malik - Pengarang Kitab Al-Fiyah" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Biografi Imam Ibnu Malik</strong> &#8211; Siapa saja yang mendalami ilmu Nahwu pastilah mengetahui kitab&nbsp;Alfiyah Ibnu Malik&nbsp;yang ditulis oleh ulama yang bernama Ibnu Malik. Namun ternyata dari sekian banyak penuntut ilmu yang mengetahui bahkan mempelajari kitab Alfiyah Ibnu Malik. Sangat sedikit diantara mereka yang mengetahui siapa sebenarnya penulis kitab tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah pada artikel kali ini kami akan menurunkan sekelumit biografi ringkas penulis kitab Alfiyah Ibnu Malik tersebut. Semoga dapat menambah wawasan kita semua.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa Imam Ibnu Malik?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Nama lengkap beliau adalah&nbsp;<strong>Muhammad bin Abdullah bin Malik ath-Tha’iy al-Jayyaaniy</strong> atau lebih dikenal dengan&nbsp;<strong>Ibnu Malik</strong>&nbsp;lahir di&nbsp;<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi_Ja%C3%A9n_(Spanyol)">Jaén</a>,&nbsp;<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Andalus">Al-Andalus</a>, pada tahun 600 H. Wafat pada tahun 672 H atau 22 Februari 1274 di Damaskus, Syam. Beliau adalah seorang ulama di bidang Bahasa Arab dan Nahwu yang sangat masyhur di abad ke-7 H. Beliau memiliki banyak karya tulis dan paling terkenal adalah&nbsp;Alfiyah Ibnu Malik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Ibnu Malik pertama kali menuntut ilmu dengan ulama yang berada di Andalusia, seperti Abu Ali asy-Syalwabain. Kemudian ia pergi ke timur dan sempat tinggal di&nbsp;Aleppo&nbsp;untuk menuntut ilmu dengan Ibnu al-Hajib dan Ibnu Ya`isy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia merupakan salah satu Imam dalam bidang Nahwu dan Bahasa Arab, juga di bidang syair Arab,&nbsp;Qira’at al-Qur’an, dan&nbsp;Hadits. Tidak hanya itu, ia juga sering membuat berbagai syair dan yang paling terkenal adalah Alfiyah Ibnu Malik dan Al-Kafiyah asy-Syafiyah yang terdiri dari 3000 bait.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Nasab Imam Ibnu Malik</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Maalik Ath-Thaa-iy Al-Jayyaaniy nisbat kepada kabilah arab ariqah yaitu kabilah Thay’ (طيء)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali kepada Thay’ bin Udah bin Zayd bin Yasyjib bin ‘Ariib bin Zayd bin Kahlaan bin Saba’ bin Yasyjib bin Ya’rib bin Qahthaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kunyah dan Gelar</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Para ahli bersepakat bahwa kun-yah beliau adalah&nbsp;<strong>Abu ‘Abdillah</strong>&nbsp;sebagaimana mereka juga bersepakat untuk menggelari beliau dengan&nbsp;<strong>Jamaaluddin</strong>&nbsp;(keindahan agama). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Gelar tersebut terkadang diringkas menjadi “Al-Jamaal Ibnu Maalik”, beliau juga memiliki laqab / gelar yang lainnya yaitu “Jalal A’laa” (جلا الأعلى). Laqab yang terakhir ini diberikan oleh <a href="https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%A3%D8%AD%D9%85%D8%AF_%D8%A8%D9%86_%D8%B7%D9%88%D9%84%D9%88%D9%86">Ibnu Thulun</a>, yaitu seorang pendiri Dinasti Thuluniyah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tempat Kelahiran dan Masa Kecil</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Biografi Imam Ibnu Malik yaitu di lahirkan di sebuah kota yang bernama Jayyaan Al-Hariir. Salah satu kota besar dan terkenal di negeri Andalus (sekarang: Spanyol), bukan kota yang berada di negeri Damaskus seperti yang di klaim banyak orang. Beliau dilahirkan pada tahun 600 H / 1203 M.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat beliau dilahirkan negeri Andalus sedang dalam kondisi terpuruk dan saat itu berada dibawah jajahan kerajaan Kristen yaitu <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kastila" target="_blank" rel="noreferrer noopener">kerajaan Kastila</a> (Kastilia). Pada saat itu dikenal dengan sebutan Reino de Castilla (Bahasa Spanyol).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Andalusia berhasil ditaklukan oleh kerajaan Kastilia maka beliau bersama orang-orang Andalusia yang lain berhijrah ke Damaskus. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad Al-Muqri At-Tilmisani menyebutkan dalam kitab beliau; <em>Fathut Thiib min Ghushnil Andalus Ar-Rathiib</em> bahwa Imam Ibnu Malik&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;sebelum berhijrah ke bumi Syam sempat belajar ilmu bahasa Arab &amp; Qira’at dengan beberapa orang ulama Andalusia saat itu. Diantaranya adalah Tsabit bin Khiyar dan Ahmad bin Nawwar&nbsp;<em>rahimahumallah</em>, mereka berdua merupakan ulama Andalusia yang paling masyhur dizamannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Imam Ibnu Malik Hijrah ke Syam</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Ibnu Malik&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;hijrah ke Syam saat pemerintahan Andalusia telah jatuh dan dikuasai sepenuhnya oleh kaum kristiani. Kota Jayyaan yang merupakan kota kelahiran Imam Ibnu Malik adalah kota yang paling strategis dan merupakan kota yang dijadikan sebagai benar-benar telah sempurna ditaklukkan oleh kerajaan Kastilia. Mereka telah menguasai seluruh persenjataan di kota tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya juga sempat terjadi pengepungan kota tersebut oleh para prajurit Kastilia, tepatnya di tahun 627 H. Namun saat itu kota ini masih dapat bertahan dari pengepungan dan pasukan Kastilia tidak mampu untuk menaklukkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biografi Imam Ibnu Malik berhijrah ke negeri Syam setelah pengepungan ini selesai. Disanalah beliau merampungkan pembelajaran fiqh madzhab Syafi’i dan beliau menjasi seorang Syafi’iyyah. Disana pula beliau mendalami ilmu Nahwu dan Qira’at bersama Syaikhul Iqra’ pada zamannya yaitu&nbsp;<strong>Al-Imam As-Sakhawi</strong>&nbsp;<em>rahimahullah</em>. Beliau juga belajar kepada ulama lainnya diantaranya&nbsp;<strong>Mukarram bin Muhammad Al-Qurasyi</strong>&nbsp;dan&nbsp;<strong>Al-Hasan bin As-Shabaah</strong>&nbsp;<em>rahimahumallah</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Ibnu Malik&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;melanjutkan kembali perjalanan menuntut ilmunya ke negeri Halab dan bermajelis dengan para ulama kibar disana. Disana beliau sempat bermulazamah dengan&nbsp;<strong>Imam Muwaffaquddin bin Ya’iisy</strong>&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>yang&nbsp;merupakan salah satu imam ahli Nahwu di zaman tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Halab beliau benar-benar serius dalam belajar hingga menjadi seorang yang sangat alim dalam ilmu qiro’ah dan juga Nahwu. Setelah beliau menguasai ilmu qiro’ah berserta ilal-ilalnya dan juga menjadi seorang yang&nbsp;<em>mutabahhir</em>&nbsp;dalam ilmu bahasa Arab, beliau membuka majelis ilmu di Halab dan dihadiri oleh banyak para penuntut ilmu dari berbagai penjuru negeri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu menandingi keilmuan beliau di Halab dalam penguasaan Nahwu dan Sharaf pada saat itu. Beliau juga hafal berbagai sya’ir Arab yang selalu dijadikan syahiid (rujukan) dalam pembelajaran ilmu bahasa Arab dan Nahwu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian beliau melanjutkan kembali rihlah-nya ke kota Hamaah dan tinggal beberapa lama disana. Beliau membuka majelis ilmu Bahasa Arab dan Qiro’ah disana dan disana pula beliau menulis kitab Alfiyah-nya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak berselang lama beliau tinggalkan kota Hamaah dan hijrah kembali ke Kairo, Mesir dan kembali melanjutkan menuntut ilmu dengan para ulama disana. Kemudian beliau kembali lagi ke Damaskus lalu membuka majelis ilmu di Masjid Jami’ Al-Umawi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau juga ditunjuk menjadi seorang imam di&nbsp;<strong>Madrasah Al-‘Adiliyyah Al-Kubra</strong>. Kesibukan beliau saat itu adalah belajar, mengajar, dan menulis. Hal itu terus berlangsung hingga beliau wafat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Murid-Murid Imam Ibnu Malik</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Ibnu Malik rahimahullah telah menempati kedudukan tinggi pada zamannya dan telah mencapai puncaknya ilmu Nahwu dan Iqra hingga memiliki madrasah ilmiyyah yang telah menelurkan para alim yang sangat kokoh keimuannya dalam Nahwu dan Bahasa Arab, diantara muridnya yang paling terkenal adalah;</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Anaknya sendiri yaitu Muhammad Badruddin, yang kemudian beliau menjadi salah satu pensyarah Alfiyah yang ditulis oleh ayahnya.</li><li>Badruddin bin Jama`ah, yang kemudian menjadi seorang Qadhi di Mesir</li><li>Abu al-Hasan al-Yunaini, seorang muhaddits yang ma’ruf.</li><li>Ibnu an-Nuhas, seorang ulama besar nahwu</li><li>Abu ats-Tsana Mahmud al-Halabi, penulis Al-Insyaa’ di Mesir dan Damaskus.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading">Karya-Karya Imam Ibnu Malik</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ibn Malik sangat produktif dalam berkarya, beliau dianugrahi kemampuan dan bakat yang luar biasa dalam menulis. Beliau banyak menulis dalam bidang nahwu, bahasa arab, ilmu ‘arudh, qiro’ah dan hadits. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemampuan menulisnya tidak hanya dalam bentuk prosa (<em>natsr</em>), tetapi juga dalam bentuk syair (<em>nazham</em>) sebagaimana didapati dalam beberapa karyanya. Karya ilmiyah beliau yang paling dikenal adalah&nbsp;<em>Al-Kafiyah asy-Syafiyah</em>, berupa syair rajaz yang secara panjang lebar membahas tentang nahwu dan sharf.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karya lainnya adalah&nbsp;<em>Tashil al-Fawaid wa Takmil al-Maqashid</em>&nbsp;yang secara ringkas membahas tentang kaidah-kaidah nahwu dan banyak para ahli bahasa memberikan penjelasan (syarh) dari buku ini. Berikut ini adalah beberapa karya ilmiyah Ibnu Malik&nbsp;<em>rahimahullah</em>;</p>



<ol class="wp-block-list"><li><em>Al-Kafiyah asy-Syafiyah</em>, dalam bidang kaidah&nbsp;sharaf</li><li><em>Tashil al-Fawaid wa Takmil al-Maqashid</em>, dalam bidang kaidah&nbsp;nahwu</li><li><em>Ijaz at-Tashrif fi `ilmi at-Tashrif</em></li><li><em>Tuhfatu al-Maudud fi al-Maqshur wa al-Mamdud</em></li><li><em>Lamiyatu al-Af`al</em></li><li><em>Al-I`tidhad fi adh-dha’ wa azh-zha’</em></li><li><em>Syawahid at-Taudhih limusykilat al-Jami` ash-Shahih</em>, merupakan syarah secara nahwu dari 100 hadits yang ada di&nbsp;Shahih Bukhari</li></ol>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Kitab-Tuhfatu-al-Maudud-karya-Imam-Ibnu-Malik-rahimahullah.jpg" alt="Kitab Tuhfatu al-Maudud karya Imam Ibnu Malik rahimahullah" class="wp-image-4040" width="622" height="350"/></figure>
</div>


<h2 class="wp-block-heading">Kedudukan dan Akhlak Imam Ibnu Malik</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ibn Malik adalah seorang alim yang bijaksana, berakhlak mulia, berperilaku sopan, tabah, memiliki kesungguhan dan rasa malu, jujur ​​untuk mendapatkan manfaat, tekun dalam membaca.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau adalah seorang yang banyak sekali membaca, cepat mengulas (muraja’ah), dan beliau tidaklah menulis apa pun dari hafalannya sampai beliau memeriksanya pada sumbernya, dan seperti inilah keadaan para masyaikh yang&nbsp;<em>tsiqah</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>tsabat</em>, Tidaklah beliau terlihat kecuali dalam keadaan shalat, membaca Al-Qur’an, menulis, atau membacakan pelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Malik adalah seorang imam dalam ilmu qiro’ah beserta ‘ilal-nya. Adapun dalam bidang bahasa, maka beliau adalah puncaknya dalam urusan menukil bagian peliknya dan dalam urusan kekuatannya dalam mencari sumber informasi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bidang nahwu dan sharf maka beliau ibarat lautan tak bertepi dan tinta yang tidak tertandingi. Adapun dalam urusan sya’ir-sya’ir arab yang dengannya para pakar berdalil untuk menunjang suatu pendapat dalam ilmu nahwu dan linguistik, maka para imam dunia benar-benar dibuat berdecak kagum dan heran akan kepiawaian beliau dalam berdalil dengannya. Adapun dalam bidang hadits beliau telah mencapai puncaknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau termasuk ulama yang selalu mendahulukan ayat-ayat Al-Qur’an dalam berdalil, jika tidak ada dalam Al-Qur’an satu ayatpun yang dapat digunakan sebagai dalil untuk suatu pendapat maka beliau beralih kepada hadits-hadits Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam,&nbsp;</em>jika beliau tak mendapatkannya dalam hadits-hadits Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;maka barulah beliau beralih kepada sya’ir-sya’ir Arab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya bahwa Ibnu Malik&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;merupakan&nbsp;<em>core of the core-</em>nya ilmu nahwu dan linguistik pada masanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Wafatnya Imam Ibnu Malik</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Biografi Imam Ibnu Malik adalah seorang imam yang zuhud dan shalih, bersemangat dalam menuntut ilmu dan menghafalnya, sampai-sampai pada hari kematiannya beliau sedang menghafal delapan bait sya’ir. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat kuat dalam membaca, cepat dalam muraja’ah, beliau tidak menulis apapun dari hafalannya sebelum memeriksanya di sumber aslinya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidaklah beliau terlihat melainkan ketika itu beliau sedang sholat atau membacakan Al-Qur’an kepada murid-muridnya, menulis atau melafalkan Al-Qur’an. Beliau tetap dalam keadaan ini sampai beliau meninggal dunia pada (Senin 12 Syaban 672 H – 21 Februari 1274 M) di Damaskus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jenazah beliau dishalatkan di Masjid Umayyah, lalu dimakamkan di kaki Gunung Qassioun, dan makamnya terletak di Rawdhah sebelah Timur makam Syaikh Muwaffaquddiin Ibn Qudamah&nbsp;<em>rahimahullah</em>, dan ada tanda berupa batu merah di bagian kepala makamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Malik, melapangkan kuburnya, mengampuni dosa dan kesalahannya serta menempatkannya di surga teringgi.&nbsp;<em>Amiin ya mujiibas saa-iliin.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian artikel mengenai penjelasan biografi imam ibnu malik dan berbagai sejarah lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">_____</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selesai ditulis dini hari yang hening, Rabu, 19 Mei 2021, pukul 01.13 WIB – Perum Graha Prima, Tambun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhukum Al-Faqiir<br><strong>Heri Suheri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Referensi</strong>:</p>



<ol class="wp-block-list"><li><a href="https://islamonline.net/archive/%D8%A7%D8%A8%D9%86-%D9%85%D8%A7%D9%84%D9%83-%D8%B5%D8%A7%D8%AD%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%84%D9%81%D9%8A%D8%A9/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">https://islamonline.net/archive/%D8%A7%D8%A8%D9%86-%D9%85%D8%A7%D9%84%D9%83-%D8%B5%D8%A7%D8%AD%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%84%D9%81%D9%8A%D8%A9/</a></li><li><a href="https://islamonline.net/archive/%d8%a7%d8%a8%d9%86-%d9%85%d8%a7%d9%84%d9%83-%d8%b5%d8%a7%d8%ad%d8%a8-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%84%d9%81%d9%8a%d8%a9" target="_blank" rel="noreferrer noopener">https://islamonline.net/archive/%d8%a7%d8%a8%d9%86-%d9%85%d8%a7%d9%84%d9%83-%d8%b5%d8%a7%d8%ad%d8%a8-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%84%d9%81%d9%8a%d8%a9</a></li></ol>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/biografi-imam-ibnu-malik/">Biografi Imam Ibnu Malik &#8211; Pengarang Kitab Al-Fiyah</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://portalviral.co/biografi-imam-ibnu-malik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tingkatan Bacaan Al-Qur’an yang Wajib Diketahui</title>
		<link>https://portalviral.co/tingkatan-bacaan-al-quran/</link>
					<comments>https://portalviral.co/tingkatan-bacaan-al-quran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2022 07:16:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Agama Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://portalviral.co/?p=3961</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="630" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Tingkatan-Bacaan-Al-Quran-yang-Wajib-Diketahui.png" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Artikel Tingkatan Bacaan Al-Qur’an yang Wajib Diketahui" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p>Tingkatan Bacaan Al-Qur’an merupakan pembahasan yang dibahas oleh para ulama agar tempo bacaan qari’ menjadi...</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/tingkatan-bacaan-al-quran/">Tingkatan Bacaan Al-Qur’an yang Wajib Diketahui</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="630" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Tingkatan-Bacaan-Al-Quran-yang-Wajib-Diketahui.png" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Artikel Tingkatan Bacaan Al-Qur’an yang Wajib Diketahui" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p class="wp-block-paragraph">Tingkatan Bacaan Al-Qur’an merupakan pembahasan yang dibahas oleh para ulama agar tempo bacaan qari’ menjadi stabil dari awal hingga akhirnya. Pembahasan ini juga merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya yaitu&nbsp;<a href="https://portalviral.co/adab-adab-membaca-al-quran/">adab-adab membaca Al-Qur’an.</a>&nbsp;Pada tulisan kali ini kami akan membahas tentang tingkatan atau tempo dalam membaca Al-Qur’an. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita perhatikan orang-orang yang membaca Al-Qur’an maka kita dapati mereka membaca Al-Qur’an dengan tempo bacaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang membacanya dengan tempo yang lambat, ada juga yang sedang ada juga yang membacanya dengan bacaan yang cepat. Berikut adalah tulisan yang membahas tentang tingkatan bacaan al-Qur’an.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tingkatan Bacaan Al-Qur&#8217;an Menurut Para Ulama</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Tingkatan-Bacaan-Al-Quran.jpg" alt="Tingkatan Bacaan Al-Qur’an" class="wp-image-3986" width="467" height="263"/></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Para ulama mengklasifikasikan tempo bacaan&nbsp;<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%27an">Al-Qur’an</a>&nbsp;atau yang biasanya diistilahkan dengan istilah&nbsp;<em>maratibul qira’ah</em>&nbsp;menjadi tiga tingkatan: yaitu&nbsp;<em>tahqiq, tadwir</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>hadr</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%A7%D8%A8%D9%86_%D8%A7%D9%84%D8%AC%D8%B2%D8%B1%D9%8A">Imam Ibnul Jazary</a>&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;berkata dalam kitabnya&nbsp;<em>Thayyibatun Naysr fi Qiro’atil ‘Asyr</em>:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">ويقرأ القرآن بالتحقيق مع # حدر وتدوير وكل متبع<br>مع حسن صوت بلحون العربي # مرتلا مجودا بالعربي</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>Al-Qur’an itu dibaca dengan tahqiq, hadr dan tadwir #&nbsp;Bersama suara yang indah menggunakan langgam arab secara tartil, mujawwad dengan bahasa Arab.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut adalah perincian dari tingkatan atau tempo dalam membaca Al-Qur’an:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1. Lambat (<em>Tahqiq</em>)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Tingkatan bacaan Al-Qur’an yang pertama adalah&nbsp;<strong>tahqiq.</strong>&nbsp;Jika dilihat dari pengertian etimologi (bahasa)&nbsp;<em>tahqiq</em>&nbsp;adalah&nbsp;<em>tarqiq</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>ta-kid</em>&nbsp;yang berarti teliti dan menguatkan. Namun jika dilihat dari sisi terminologi (istilah), tahqiq menurut para ahli qira’ah adalah:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">وهو القراءة بتؤدة واطمئنان مع المبالغة في الإتيان بالشيء على حقه من غير زيادة ولا نقصان، وهو يصلح في مقام التعليم</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>“Membaca dengan lambat dan tenang dengan memberikan haknya secara totalitas tanpa ada tambahan ataupun pengurangan. Tingkatan ini cocok digunakan dalam proses ta’lim (belajar-mengajar.”</em></p>



<h4 class="wp-block-heading">Contoh penerapan bacaan tahqiq</h4>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita simak dengan seksama bacaan diatas dibaca dengan perlahan-lahan dan tartil, bacaan inilah yang disebut dengan&nbsp;<em>martabah tahqiq.&nbsp;</em>Oleh karena itu, bacaan ini memiliki banyak kelebihan diantaranya adalah sang qori’ atau pembaca Al-Qur’an lebih mudah dalam menunaikan hak-hak huruf disertai dengan tadabbur yang lebih mendalam. Akan tetapi, jika seseorang membaca Al-Qur’an dengan tempo ini maka ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2. Sedang (Tadwir)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Tingkatan bacaan Al-Qur’an yang kedua adalah&nbsp;<strong>tadwir</strong>. Menurut pengertian bahasa. tadwir adalah menjadikan sesuatu dengan bentuk melingkar. Adapun menurut istilah para ulama tajwid yang dimaksud dengan tadwir adalah:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">توسط القراءة بين التحقيق والحدر</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>“Bacaan yang sedang yaitu antara tahqiq (perlahan) dan hadr (cepat)</em><em>“</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh penerapan bacaan tadwir:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bacaan dengan tempo&nbsp;<em>tadwir</em>&nbsp;ini adalah bacaan yang sedang, tidak cepat tidak pula lambat. Bacaan dengan tempo inilah yang paling sering dibaca oleh para imam saat mengimami shalat kaum muslimin. Selain itu paling sering juga digunakan oleh kaum muslimin saat praktek&nbsp;<em>tadarus</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelebihan bacaan Al-Qur’an dengan tempo&nbsp;<em>tadwir</em>&nbsp;adalah bacaan dapat dituntaskan dengan durasi yang lebih cepat daripada bacaan dengan tempo&nbsp;<em>tahqiq</em>, namun tetap terasa mudah dalam menunaikan hak-hak huruf dari&nbsp;<em>makhraj, shifat</em>&nbsp;ataupun hukum-hukum tajwidnya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">3. Cepat (Hadr)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Tingkatan bacaan Al-Qur’an yang berikutnya adalah&nbsp;<strong><em>hadr</em></strong>. Menurut pengertian bahasa. hadr adalah as-sur’ah (cepat), adapun menurut istilah para ulama tajwid yang dimaksud dengan hadr adalah:</p>



<p class="wp-block-paragraph">وهو الإسراع في القراء مع المحافظة على قواعد التجويد، ومراعاتها بدقة، وليحذر القارئ فيه من بتر حرف المد أو ذهاب صوت الغنة أو اختلاس الحركات</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Membaca cepat dengan tetap menjaga dan memperhatikan kaidah-kaidah tajwid dengan sangat hati-hati, dan hendaknya seorang qari’ berhati-hati dari memotong huruf mad, menghilangkan suara ghunnah, atau ikhtilas (membaca sebagian) harakat.</em><em>“</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh penerapan bacaan hadr:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tingkatan membaca Al-Qur’an yang ketiga ini biasanya digunakan oleh para penghafal Al-Qur’an saat mengulang (muraja’ah) hafalan. Rata-rata satu juz diselesaikan hanya dalam tempo 20 menit atau kurang dari itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelebihan membaca dengan tempo ini adalah seorang qari’ atau hafizh Al-Qur’an dapat dengan cepat menyelesaikan bacaan atau hafalannya dengan sesegera mungkin. Akan tetapi, meskipun bacaan dapat dituntaskan dengan lebih cepat, tempo bacaan yang ketiga ini sangat ‘rawan’ bagi para pemula apalagi yang kemapuan dalam membaca Al-Qur’annya masih kurang lancar. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, para ulama tidak merekomendasikan kepada para pembelajar pemula yang bacaan Al-Qur’annya masih terbata-bata untuk membaca Al-Qur’an dengan tempo hadr karena dikhawatirkan terjatuh kedalam banyak kesalahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Wajib Membaca Al-Qur&#8217;an Dengan Tartil?</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Adab-adab-Membaca-Al-Quran-1.jpg" alt="Adab-adab Membaca Al-Qur’an 1" class="wp-image-3951" width="467" height="263"/></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Seorang qari’ yang membaca Al-Qur’an diwajibkan untuk membacanya dengan tartil, yaitu menunaikan hak dan mustahak setiap huruf apapun tingkatan bacaan Al-Qur’an yang digunakan, baik itu&nbsp;<em>tahqiq, tadwir</em>&nbsp;ataupun&nbsp;<em>hadr</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu diketahui bahwa istilah tartil mencakup tiga tingkatan bacaan diatas. Pendapat inilah yang menurut kami merupakan pendapat yang lebih kuat diantara pendapat para ulama tentang tempo atau tingkatan membaca Al-Qur’an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pembahasan singkat tentang tingkatan bacaan Al-Qur’an, semoga dapat menambah wawasan kita semua dan semoga Allah mudahkan kita semua untuk mengamalkannya. Amiin.</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/tingkatan-bacaan-al-quran/">Tingkatan Bacaan Al-Qur’an yang Wajib Diketahui</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://portalviral.co/tingkatan-bacaan-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Adab-Adab Membaca Al-Qur’an</title>
		<link>https://portalviral.co/adab-adab-membaca-al-quran/</link>
					<comments>https://portalviral.co/adab-adab-membaca-al-quran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2022 13:02:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Agama Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://portalviral.co/?p=3891</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="630" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Adab-Adab-Membaca-Al-Quran.png" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Artikel Adab-Adab Membaca Al-Qur&#039;an" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p>Adab-adab membaca Al-Qur’an perlu diperhatikan oleh setiap muslimin/ah yang hendak membaca Al-Qur’an, karena ia merupakan...</p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/adab-adab-membaca-al-quran/">Adab-Adab Membaca Al-Qur’an</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="630" height="350" src="https://portalviral.co/wp-content/uploads/2022/10/Adab-Adab-Membaca-Al-Quran.png" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="Artikel Adab-Adab Membaca Al-Qur&#039;an" decoding="async" loading="lazy" /></p>
<p class="wp-block-paragraph">Adab-adab membaca Al-Qur’an perlu diperhatikan oleh setiap muslimin/ah yang hendak membaca Al-Qur’an, karena ia merupakan kalamullah yang suci. Pada tulisan sebelumnya kami telah membahas tentang Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an, maka pada pembahasan kali ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang adab membaca Al-Qur’an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Qur’an adalah&nbsp;<em>kalamullah</em>&nbsp;yang berbeda dengan kitab-kitab lain buatan manusia. Oleh karena itu membacanya pun harus mengikuti adab-adab membaca Al-Qur&#8217;an yang dianjurkan oleh Rasulullah&nbsp;<em>shalallahu ‘alahi wasallam.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">1. Mengikhlaskan Niat Hanya Untuk Allah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Allah&nbsp;<em>subhanahu wa ta’ala</em>&nbsp;berfirman:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ (2) أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ….. (3)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)…</em>”&nbsp;(QS. Az-Zumar 39: 2-3)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, (Nabi bersabda), Allah Ta’ala berfirman;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعا: قال -تعالى-: ((أنا أغنى الشركاء عن الشرك؛ من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركتُه وشِرْكَه))&nbsp;<br>[<strong>صحيح.</strong>] – [رواه مسلم]</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Aku paling tidak butuh pada semua sekutu. Siapa beramal dengan mempersekutukan diri-Ku dalam amalnya, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.”&nbsp;</em>(HR. Muslim no. 7475 dari Abu Hurairah)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam An-Nawawi&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;pernah berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Hendaknya jangan berniat dengannya untuk mendapatkan dunia yang berupa harta benda, kepemimpinan, kewibawaan, keunggulan diantara kawan-kawan, pujian manusia, ataupun yang semisalnya.”</em>&nbsp;(<em>At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an</em>, hal. 29-30)</p>



<h3 class="wp-block-heading">Ancaman untuk Bagi Qari&#8217;</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Berbicara tentang ikhlas dalam membaca Al-Qur’an, ada beberapa hadits yang berisi ancaman terkhusus untuk para qari’ (pembaca Al-Qur’an) yang menjadikan bacaannya terbatas sebagai alunan yang ia gunakan untuk menarik sanjungan manusia juga untuk mencari kesenangan dunia semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>&nbsp;bersabda:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">تعلموا القرآن، و سلوا الله به الجنة، قبل أن يتعلمه قوم، يسألون به الدنيا، فإن القرآن يتعلمه ثلاثة : رجل يباهي به، و رجل يستأكل به، ورجل يقرأه&nbsp; لله عز وجل</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Pelajarilah Al-Qur’an &amp; mintalah kamu surga kepada Allah dengannya, sebelum (datangnya) suatu kaum yang mempelajarinya untuk memperoleh harta benda (dunia). Sesungguhnya Al-Qur’an itu akan dipelajari oleh tiga macam manusia, yaitu:&nbsp;<strong>orang yang akan berbangga diri dengannya, orang yang mencari makan dengannya</strong>&nbsp;&amp; orang yang membacanya karena Allah.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>&nbsp;juga bersabda:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">أَكْثَرُ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاءُهَا</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah para qari’-nya.”&nbsp;</em>(As-Silsilah Ash-Shahiihah no. 750 dan dalam Shahiihul Jami’ no. 1203 dari Ibnu ‘Amr)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah beberapa hadits seputar peringatan keras terhadap orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah untuk menggapai secuil kenikmatan dunia. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Diantara mereka tidak sedikit yang berbangga dengan pengetahuannya yang cukup dalam tentang ilmu qiro’ah lalu menganggap orang lain sebagai orang yang bodoh dan ia merasa lebih pandai dari orang lain, seolah ia ingin mengatakan: “Aku lebih bagus makhrajnya dari si fulan, si fulan bacaannya ancur berantakan bacaanku jauh lebih bagus” dan ungkapan-ungkapan semisal yang menunjukkan akan kesombongan diri (takabbur). Semoga Allah selamatkan kita semua dari sifat tercela ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. Suci dari Hadats Besar dan Hadats Kecil</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab-adab Membaca Al-Qur’an yang selanjutnya adalah hendaknya saat membaca Al-Qur’an kondisi kita dalam keadaan suci dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Al-Muhajir bin Qunfudz, ia berkata: Bahwasanya dia mendatangi Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>&nbsp;yang ketika itu sedang buang air kecil. Lalu dia mengucapkan salam kepada beliau, tetapi beliau tidak menjawabnya hingga beliau selesai berwudhu. Lantas beliau menjelaskan udzurnya seraya berkata:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">أني كرهت أن أذكر الله إلا على طهر. أو قال: على طهارة</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Sesungguhnya aku tidak menyukai menyebut nama Allah (berdzikir kepada Allah) melainkan dalam keadaan suci</em>”&nbsp;(HR. Abu Dawud (no. 750) dan dalam Shahih al-Jami’ (no. 1203) dari Ibnu Amr).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perhatikanlah bagaimana Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>&nbsp;tidak suka menyebut Allah&nbsp;<em>subhanahu wa ta’ala</em>&nbsp;dalam keadaan tidak suci. Kalau menyebut Allah saja beliau lebih suka dalam keadaan suci maka apalagi saat membaca Al-Qur’an yang secara keseluruhannya adalah&nbsp;<em>kalamullah</em>. Tetapi para ulama menjelaskan jika seseorang membaca Al-Qur’an dalam keadaan berhadats kecil hukumnya tetap diperbolehkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam An-Nawawi&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Jika seorang membaca dalam keadaan berhadats (kecil), maka hal itu diperbolehkan menurut ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Hadits-hadits tentangnya banyak dan sudah masyhur</em>.&nbsp;<em>Imam Al-Haramain berkata:</em>&nbsp;<em>“Tidaklah dikatakan bahwa orang tersebut melakukan hal yang makruh, tetapi dia meninggalkan sesuatu yang lebih utama”</em>. &nbsp;(At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 97)</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. Memilih Waktu dan Tempat yang Cocok</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Membaca Al-Qur’an diperbolehkan kapan saja dan dimana saja, selama bukan di tempat-tempat yang terlarang. Namun ada waktu-waktu yang perlu kita perhatikan, karena diharapkan waktu-waktu tersebut dapat mendatangkan rahmat Allah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab Al-Itqan fii ‘Uluumil Qur’an (1/292) karya Imam As-Suyuthi -rahimahullah- disebutkan bahwa waktu yang paling utama adalah:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Ketika shalat (yaitu setelah membaca surat Al-Fatihah),</li><li>Pada 1/3 malam terakhir,</li><li>Pada malam hari,</li><li>Sewaktu fajar,</li><li>Ketika shubuh,</li><li>Di waktu-waktu siang.&nbsp;</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula disukai membaca Al-Qur’an pada tempat-tempat yang bersih, jauh dari hal-hal yang dapat menggangu&nbsp;<em>tilawah</em>. Para ulama menyebutkan bahwa sebaik-baik tempat untuk membaca Al-Qur’an adalah di masjid, sebagaimana dikatakan oleh Imam An-Nawawi -rahimahullah-, tentunya dengan syarat tidak boleh mengeraskan suara sampai mengganggu orang yang sedang shalat sebagaimana akan datang penjelasannya pada&nbsp;adab-adab membaca Al-Qur&#8217;an yang kesebelas. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan mengapa masjid adalah tempat terbaik untuk membaca Al-Qur’an adalah masjid merupakan tempat tempat yang bersih dan suci, juga tempat yang paling mulia diatas muka bumi ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Al-Qurthubi&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;juga pernah berkata:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jangan membaca di pasar-pasar, di tempat-tempat permainan dan tempat-tempat hiburan, juga di tempat perkumpulan orang-orang pandir. Tidakkah Anda perhatikan bahwa Allah menyebutkan sifat hamba-hamba-Nya (<em>Ar-Rahman</em>), serta memuji mereka seperti dalam firman-Nya : ‘<em>dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya</em>‘. Ini sekedar berlalu, lantas bagaimana apabila berlalu dengan membaca Al-Qur’anul Karim diantara orang-orang yang suka melakukan perbuatan yang sia-sia dan kumpulan orang-orang pandir?” (At-Tibyan Fii Afdhalil Adzkar, hal. 183-185)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun membaca dijalan atau dikendaraan, hal itu diperbolehkan dan hukumnya tidaklah makruh berdasarkan hadits berikut:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Abdullah bin Mughaffal&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia berkata: ” aku melihat Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;pada hari penaklukan kota Makkah, dan saat itu beliau membaca surat Al-Fath diatas tunggangannya. (HR. Al-Bukhari no. 5034)</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. Menghadap Kiblat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab-adab membaca Al-Qur’an yang selanjutnya adalah&nbsp;<strong>dianjurkan</strong>&nbsp;bagi seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an) untuk menghadap kiblat. Allah berfirman:&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>” Maka hadapkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. Dan dimana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu kearah itu”</em>&nbsp;(QS. Al-Baqarah 2:144)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan ayat diatas para ulama bersepakat bahwa kiblat adalah arah yang paling utama. Sehingga orang-orang shalih tatkala bertaqarrub kepada Allah mereka berusaha untuk senantiasa menghadap kearah kiblat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam An-Nawawi&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;berkata: “<strong>Keadaan inilah (menghadap kiblat) yang paling sempurna</strong>. Seorang qari’ yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan berdiri, bersandar, pada tempat tidur atau dalam keadaan yang lain memang dibolehkan serta mendapatkan pahala,&nbsp;<strong>tetapi kedudukannya dibawah yang pertama (menghadap kiblat)</strong>. (At-Tibyan, hal. 104)</p>



<h2 class="wp-block-heading">5. Membersihkan Mulut Dengan Siwak</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab-adab Membaca Al-Qur’an berikutnya yaitu disunnahkan bagi orang yang membaca Al-Qur’an untuk&nbsp;<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Siwak">bersiwak</a>&nbsp;terlebih dahulu. Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wasallam</em>&nbsp;bersabda:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Siwak itu pembersih mulut dan mendatangkan ridha Rabb.</em>” (Shahih An-Nasa’i no.5 dari ‘Aisyah).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Ali bin Abi Thalib&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wasallam&nbsp;</em>bersabda;&nbsp;<em>“Sesungguhnya seorang hamba bila bersiwak lalu berdiri mengerjakan salat, maka berdirilah seorang malaikat dibelakangnya lalu mendengarkan bacaannya dengan saksama kemudian dia mendekatinya (atau dia mengucapkan kalimat seperti itu) hingga malaikat itu meletakkan mulutnya di atas mulut orang yang membaca al-Qur’an, maka tidaklah keluar dari mulutnya bacaan al-Qur’an itu melainkan langsung ke perut malaikat, oleh sebab itu&nbsp;<strong>bersihkanlah mulut-mulut kalian untuk membaca al-Qur’an</strong></em>.” (Shahih at-Tarhiib no. 215).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ali bin Abi Thalib&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu</em>&nbsp;berkata: “Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan bagi Al-Qur’an, maka sucikanlah dengan siwak.” (HR. Ibnu Majah no. 291)</p>



<h3 class="wp-block-heading">Apakah Menyikat Gigi Dengan Pasta Gigi Hukumnya Sama Dengan Bersiwak?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Fatwa Nur ‘Ala Darb, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;pernah ditanya:</p>



<p class="wp-block-paragraph">هل استعمال معجون الأسنان يغني عن السواك؟ وهل يثاب من استعمله بنية طهارة الفم؟ أي هل يعادل السواك في الأجر الذي رغب فيه الرسول صلى الله عليه وسلم لمن يستاك؟</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Apakah menggunakan pasta gigi cukup untuk bersiwak? Dan apakah orang yang menyikat gigi dengan niat membersihkan mulut akan mendapatkan pahala? Maksudnya apakah ia (menyikat gigi) pahalanya sama dengan bersiwak yang mana orang yang bersiwak disukai oleh Rasul?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;menjawab:</p>



<p class="wp-block-paragraph">نعم، استعمال الفرشة والمعجون يغني عن السواك، بل وأشد منه تنظيفاً وتطهيراً، فإذا فعله الإنسان حصلت به السنة؛ لأنه ليس العبرة بالأداة، العبرة بالفعل والنتيجة، والفرشاة والمعجون يحصل بها نتيجة أكبر من السواك المجرد، لكن هل نقول: إنه ينبغي استعمال المعجون والفرشة كلما استحب استعمال السواك أو نقول: إن هذا من باب الإسراف والتعمق ولعله يؤثر على الفم برائحة أو جرح أو ما أشبه ذلك؟ هذا ينظر فيها</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Iya, menggunakan sikat gigi dan pasta gigi cukup untuk bersiwak. Bahkan hasilnya lebih bersih dan suci daripada siwak. Jika seorang menggosok gigi dengan sikat gigi dan pasta gigi, maka dia telah melakukan amalan sunnah. Karena intinya bukan pada benda yang digunakan. Akan tetapi pada perbuatan dan hasilnya. Sikat gigi dan pasta gigi, lebih besar hasilnya daripada sekedar memakai siwak. Namun apakah kita katakan: Dianjurkan menyikat gigi dengan pasta gigi pada setiap kondisi disunnahkannya bersiwak? Maka kita jawab: Sesungguhnya hal tersebut merupakan tindakan pemborosan dan berlebihan, hal ini dapat berdampak pada aroma mulut bahkan dapat menyebabkan luka (iritasi) dan yang semisal dengan itu? Hal ini perlu diteliti kembali.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Silahkan cek fatwa beliau&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;<a href="https://audio.islamweb.net/AUDIO/index.php?page=FullContent&amp;full=1&amp;audioid=315512">disini</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">6. Membaca Ta&#8217;awwudz atau Isti&#8217;adzah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab yang keenam adalah membaca&nbsp;<em>isti’adzah</em>&nbsp;sebelum membaca Al-Qur’an, sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah&nbsp;<em>subhanahu wa ta’ala</em>:</p>



<p class="wp-block-paragraph">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk</em>” (An-Nahl 16: 98)</p>



<h2 class="wp-block-heading">7. Membaca Basmalah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab membaca Al-Qur’an yang ketujuh yaitu membaca basmalah;&nbsp;<em>bismillaahirrahmaanirrahiim</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Anas&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu</em>&nbsp;berkata: “Pada suatu hari Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;berada ditengah-tengah kita lalu tiba-tiba beliau pingsan. Tidak lama kemudian beliau mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya: ‘Apa yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">أُنزِلَتْ عليَّ آنفًا سورةُ بِسْمِ اللهُ الرَّحْمَنِ الرَّحِيِمِ . إِنَّا أعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هو الْأَبْتَرُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tadi telah diturunkan kepadaku sebuah surah, ‘lantas beliau membaca:&nbsp;<strong>Bismillahirrahmanirrahim</strong>, ‘<em>Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.</em>‘ (Al-Kautsar 108:1-3)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perhatikan para pembaca sekalian, dalam hadits diatas disebutkan bahwa Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa salla</em>m sebelum membaca ayat pertama di surat Al-Kautsar, beliau mengawalinya dengan mambaca&nbsp;<em>basmalah</em>&nbsp;terlebih dahulu. Dari sinilah para ulama menyimpulkan bahwa membaca&nbsp;<em>basmalah</em>&nbsp;merupakan salah satu adab-adab membaca Al-Qur&#8217;an yang dianjurkan untuk dilakukan oleh seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an) sebelum memulai aktivitas tilawahnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">8. Membaca Dengan Tartil</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab-Adab yang selanjutnya adalah membaca Al-Qur’an dengan tartil. Yang dimaksud dengan tartil adalah<strong>&nbsp;tidak terlalu cepat atau terburu-buru dalam membaca Al-Qur’an</strong>. Allah&nbsp;<em>subhanahu wa ta’ala</em>&nbsp;berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph">وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan</em>“. (QS. Al-Muzammil 73: 4)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam At-Thabari&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;menafsirkan ayat diatas:&nbsp;<strong>“Perjelaslah bacaan Al-Qur’an apabila kamu membacanya, dan perlahan-lahanlah dalam membacanya”.</strong>&nbsp;(<a href="http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura73-aya4.html" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tafsir Ath-Thabari QS. Al-Muzzammil ayat 4</a>)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita perhatikan kondisi di masyarakat, tidak sedikit kaum muslimin pada hari ini yang membaca Al-Qur’an dengan isti’jal (mau cepat-cepat selesai), ini merupakan perbuatan yang melanggar Adab-adab Membaca Al-Qur’an. Padahal kita dapati beberapa riwayat dari kaum salaf bahwa mereka membenci perbuatan isti’jal dalam membaca Al-Qur’an, yang demikian dikarenakan isti’jal dapat mengurangi kebaikan tujuan utama diturukannya Al-Qur’an yaitu untuk dihayati dan ditadabburi maknanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kisah Keharusan Membaca Al-Qur&#8217;an dengan Tartil</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu ketika ada seseorang yang mendatangi sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu lalu berkata; “Aku membaca&nbsp;<em>mufashshal</em>&nbsp;dalam satu rakaat.” (ket: Mufashshal adalah surat-surat pendek yang dimulai dari surat Qaaf sampai surat An-Naas). Maka Abdullah bin Mas’ud&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu&nbsp;</em>&nbsp;berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Apakah kamu membaca surat-surat itu dengan cepat seperti membaca sya’ir? Sesungguhnya ada suatu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka (tidak sampai masuk kedalam hati). Padahal jika Al-Qur’an sampai kedalam hati dan menghunjam kuat disana, pastilah ia akan memberikan manfaat.”&nbsp;</em>(HR. Muslim no. 822)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Mujahid&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;juga pernah ditanya tentang dua orang; yang satu membaca surat Al-Baqarah, sedangkan yang satu lagi membaca surat Al-Baqarah dan Aali ‘Imran. Ruku, sujud serta duduk kedua orang tersebut sama. Siapa diantara keduanya yang lebih utama? Kemudian beliau&nbsp;<em>rahimahullah&nbsp;</em>menjawab:&nbsp;<strong>“Yang lebih utama adalah orang yang membaca surat Al-Baqarah”</strong>. Kemudian beliau membacakan ayat:</p>



<p class="wp-block-paragraph">وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia&nbsp;<strong>perlahan-lahan</strong>&nbsp;dan Kami menurunkannya secara bertahap” (QS. Al-Isra 17: 106).</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah diatas dinukil dari kitab Akhlaq Hamalatil Qur’an hal. 90.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga</strong>: <strong><a href="https://portalviral.co/tingkatan-bacaan-al-quran/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tingkatan Bacaan Al-Qur&#8217;an yang Wajib Diketahui</a></strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">9. Memperindah Suara dan Bacaan Al-Qur&#8217;an</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Disunnahkan ketika membaca Al-Qur’an untuk memperindah suara dan berirama saat membacanya. Ini juga merupakan salah satu adab dalam membaca Al-Qur’an yang disebutkan oleh para ulama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;bersabda:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hiasilah al-Quran dengan suara kalian.</em>&nbsp;(HR. Ahmad 18994, Nasai 1024, dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam haditsnya yang lain Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;juga bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Siapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca al-Quran, maka ia bukan dari golongan kami.”</em>&nbsp;(HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth).</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kenapa Membaca Al-Qur&#8217;an Harus Diperindah?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Para ulama salaf amatlah perhatian mengenai permasalahan ini. Sebab, suara yang merdu atau indah dalam tilawah Al-Qur’an mampu memberikan pengaruh yang sangat besar untuk jiwa, bahkan bisa menambah kekhusyukan, dan mampu mendorong seseorang untuk jauh lebih mentadabburi isi Al-Qur’an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Bara’ bin Azib&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu</em>&nbsp;pernah berkata: ” Aku pernah mendengar Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;membaca surah at-Tiin pada shalat ‘Isya, dan aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suara atau bacaannya selain beliau.” (HR. Al-Bukhari)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-A’masy&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;pernah menuturkan tentang Yahya bin Watstsab (wafat 103 H): Yahya bin Watstsab orang yang paling indah qiraat (bacaan) nya, terkadang sampai-sampai aku ingin mencium kepalanya karena keindahan itu. Apabila dia membacakan Al-Qur’an maka tidak terdengar satu gerakan pun didalam masjid, seakan-akan tidak ada seorangpun yang ada di masjid tersebut.” (<em>Wa Rattilil Qur’ana Tartila&nbsp;</em>hal. 33, dinukil dari&nbsp;<em>Nuzhatul Fudhala&nbsp;</em>1/402).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam An-Nawawi&nbsp;<em>rahimahullah</em>&nbsp;pernah berkata:&nbsp;<em>“Kaum salaf dan khalaf dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan para ulama setelah meraka dari berbagai negeri yang termasuk para imam kaum muslimin telah sepakat atas disunnahkannya memperindah suara dalam membaca Al-Qur’an.”</em>&nbsp;(At-Tibyan hal. 144).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dianjurkan untuk membaguskan suara ketika membaca Al-Qur’an selama tidak keluar dari kaidah qiraah yang benar. Seperti berlebih-lebihan saat melagukannya sehingga menambah satu huruf, atau menguranginya, maka hal itu haram dilakukan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Melagukan Bacaan Al-Qur&#8217;an Yang Terpuji dan Yang Tercela</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Melagukan Al-Qur’an ada dua macam;</p>



<h4 class="wp-block-heading">1. Lagu yang Sesuai dengan Tabiat Manusia</h4>



<p class="wp-block-paragraph">Yaitu lagu yang natural tanpa dibuat-buat, dipelajari, ataupun dilatih. Jika seseorang dibiarkan bersama tabi’atnya, dibiarkan lepas dan bebas maka ia akan dapat melagukannya dengan sendirinya. Hal yang seperi ini diperbolehkan meskipun orang tersebut mengusahakan agar tabiat dan karakternya tersebut lebih indah dan lebih bagus. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal inilah yang dimaksud oleh sahabat Abu Musa Al-Asy’ari&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu&nbsp;</em>tatkala becaannya disimak oleh Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam&nbsp;</em>tanpa sepengetahuannya:&nbsp;<em>“Jikalau aku tahu engkau mendengarkan bacaannku niscaya akan kuperindah bacaanku dengan sebaik-baiknya”.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikianlah yang dilakukan oleh para Salafuna ash-Shaalih, yaitu melagukan al-Qur’an dengan lagu yang terpuji, yaitu lagu yang membawa kebaikan untuk pembaca dan pendengarnya. Kepada pemahaman inilah dalil-dalil tentang melagukan Al-Qur’an diarahkan.</p>



<h4 class="wp-block-heading">2. Lagu yang Diperoleh dari Hasil Usaha Manusia</h4>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu yang seperti ini seringkali&nbsp;<strong>tidak sejalan dengan karakter dan tabi’at si pembaca Al-Qur’an</strong>, bahkan tidak jarang ia memaksakan dirinya agar bisa melagukan Al-Qur’an dengan irama tersebut, ia melatih dirinya agar bisa mirip dengan irama tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan irama-irama tersebut tidak akan bisa dipraktekkan kecuali setelah melalui proses melatih diri dan mempelajari vokal (cengkok-cengkok) yang diciptakan mulai dari yang mudah hingga yang sulit. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah jenis melagukan Al-Qur’an yang dibenci oleh para ulama salaf; mereka mencelanya dan melarang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian, bahkan mereka mengingkari orang-orang yang berbuat demikian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembahasan lengkap tentang hal ini dapat pembaca simak di kitab&nbsp;<em>Zaadul Maa’ad</em>-nya Imam Ibnul Qoyyim&nbsp;<em>rahimahullah.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">10. Tadabur, Khusyu dan Menangis</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab membaca Al-Qur’an yang selanjutnya adalah membacanya dengan diiringi penghayatan (tadabbur), khusyu’ dan menangis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah&nbsp;<em>subhanahu wa ta’ala</em>&nbsp;berfirman tentang Al-Qur’an:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah&nbsp;<strong>supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya</strong>&nbsp;dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran</em>” (QS. Shad 38: 29)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah berfirman kepada anak Adam:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?</em>” (QS. Muhammad 47:24)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang shalih:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”</em>&nbsp;(QS. Al-Isra 17: 109)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita perhatikan bagaimana tadabur, kekhusyuan, serta tangisan Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;dan kaum salaf ketika membaca Al-Qur’anul Karim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Abdullah bin as-Syikhir berkata: “Aku mendatangi Nabi&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;sewaktu beliau shalat, dan (terdengar) dari rongga dada beliau suara isak tangis seperti air yang mendidih didalam bejana.” (HR. An-Nasai no. 1156)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Abdullah bin Saddad berkata: “Aku mendengar isak tangis Umar, dan aku berada diakhir shaf ketika dia membaca ayat:&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللّهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS.Yusuf 12: 86)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;bersabda:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">إِنَّ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ صَوْتًا بِالقُرْآنِ، الَّذِي إِذَا سَمِعْتُمُوْهُ يَقْرَأُ، حَسِبْتُمُوهُ يَخْشَى اللّه</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Sesungguhnya manusia yang paling bagus suaranya dalam membaca Al-Qur’an adalah orang yang jika kalian mendengar ia membaca, kalian menyangkanya dia takut kepada Allah”</em>&nbsp;(HR. Ibnu Majah no. 1339)</p>



<h2 class="wp-block-heading">11. Mengeraskan Bacaan (Tidak Mengganggu Orang Lain)</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Diantara Adab-adab Membaca Al-Qur’an yang dijelaskan oleh para ulama adalah mengeraskan bacaannya asalkan tidak mengganggu orang lain, terutama orang yang sedang shalat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;bersabda:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">مَا أَذِنَ اللَّه لِشَيءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَّنَ اْلصَّوْتَ بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">”&nbsp;<em>Tidakkah Allah mengizinkan sesuatu (seperti halnya) mengizinkan Nabi yang bersuara indah dalam membaca Al-Qur’an dengan dijaharkan</em>” (HR. Al-Bukhari no. 7544 dan Abu Hurairah)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">الجَاهِرُ بِالقُرْآنِ كَالْجَاهِرُ بِالصَّدَقَةِ، وَاْلمُسِرُّ بِالقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Orang yang menjaharkan (dengan suara keras) bacana Al-Qur’an seperti orang bersedekah terang-terangan, dan orang yang mensir bacaan Al-Qur’an (dengan suara lirih) seperti orang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi</em>” (HR. Abu Dawud no. 1333 dari Uqbah bin Amir al-Juhani)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembaca yang budiman, jika melihat sepintas dua hadits diatas, seolah keduanya terlihat seperti bertentangan; hadits yang pertama anjuran untuk membaca Al-Qur’an dengan&nbsp;<em>jahr</em>&nbsp;(dengan suara keras), dan hadits yang kedua anjuran membaca Al-Qur’an dengan sir (dengan suara lirih). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketahuilah, bahwa para ulama telah berusaha untuk mengkompromikan dua hadits ini dengan cara menggabungkan matan keduanya, lalu mereka memberi penjelasan sebagai berikut:</p>



<h3 class="wp-block-heading">Jahr&nbsp;(mengeraskan bacaan)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">lebih utama dengan syarat tidak mengganggu orang lain; seperti orang yang sedang sholat, sedang tidur atau sedang beraktivitas lainnya. Hal ini karena men-<em>jahr</em>&nbsp;sendiri memiliki beberapa faidah; diantaranya bisa membangkitkan hati, lebih mudah untuk berkonsentrasi, dan mampu mengusir rasa kantuk sehingga bisa menambah semangat ketika membaca Al-Qur’an.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Sirr&nbsp;(melirihkan bacaan)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">lebih utama apabila dikhawatirkan men-<em>jahr</em>&nbsp;kemudian muncul sifat riya, mengganggu orang yang sedang sholat, atau mengusik orang yang sedang tidur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun dalil yang digunakan para ulama untuk menjamak kedua hadits diatas tersebut adalah riwayat Abu Sa’id al-Khudri&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwa dia berkata:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">اعتكف رسول الله صلى الله عليه وسلم فسمعهم يجهرون بالقراءة،&nbsp;فكشف الستر وقال: ألا إن كلكم مناج ربه، فلا يؤذين بعضكم بعضا، ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة، أو قال: في الصلاة</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;beriktikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka mengeraskan bacaan Al-Qur’an, kemudian beliau membuka tirai seraya berkata:&nbsp;<em>‘Sesungguhnya setiap kalian sedang bermunajat kepada &nbsp;Rabbnya, maka janganlah sebagian kalian mengganggu sebagain yang lain, dan janganlah sebagai kalian mengangkat suara dalam qira’ah lebih dari yang lainnya.’&nbsp;</em>Dalam lafazh yang lainnya:<em>&nbsp;‘dalam shalatnya.’&nbsp;</em>(HR. Abu Dawud no. 1332)</p>



<h3 class="wp-block-heading">Membaca Al-Qur&#8217;an Menggunakan Pengeras Suara</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an untuk dibaca dan ditadabburi (direnungi) isinya, diambil pelajaran darinya dan diamalkan isinya. Kerananya, jangan sampai bacaan kita mengganngu orang lain, hingga mereka menjadi benci dan lari dari Al-Qur’an hanya karena kita jahil/bodoh terhadap adab yang satu ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab Talbis Iblis, Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Iblis telah memperdaya suatu kaum dari kalangan para qari’, sehingga mereka membaca Al-Qur’an di menara masjid pada malam hari dengan suara yang bersamaan lagi keras sebanyak satu atau dua juz. Dengan seperti itu sejatinya mereka sedang mengumpukan dua kesalahan; yaitu mengganggu manusia dari tidurnya dan mengantarkan dirinya pada perbuatan riya”</em>&nbsp;(<a href="https://archive.org/details/waq16079/page/n142/mode/2up?view=theater">Talbis Iblis hal. 143</a>)</p>



<h2 class="wp-block-heading">12. Mewaqafkan Bacaan Pada Akhir Ayat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab-adab Membaca Al-Qur’an yang berikutnya adalah waqaf (berhenti) pada setiap akhir ayat yang dibaca, tidak disambung dengan ayat selanjutnya sebagaimana yang telah di contohkan oleh Nabi&nbsp;<em>shalallahu ‘alayhi wa sallam.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ummu Salamah&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anha</em>&nbsp;berkata: Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;memutus-mutus qiraahnya (membaca waqaf pada setiap akhir ayat). Beliau membaca:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِين</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan&nbsp;<strong>berhenti</strong>, lalu membaca:&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan&nbsp;<strong>berhenti</strong>, lalu membaca:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">(HR. At-Tirmidzi no. 2927)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam riwayat lain disebutkan: “Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam</em>&nbsp;membaca Al-Qur’an seayat demi seayat”. (HR. Abu Dawud no. 4001)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syaikh ‘Abdul Karim Silmi Al-Jazaairy&nbsp;<em>hafizhahullah</em>&nbsp;berkata:&nbsp;<em>“Cukuplah perbuatan seorang qari yang selalu menyambung satu ayat dengan ayat setelahnya (tanpa waqof) menunjukkan bahwa ia bukanlah seorang yang faqiih”,&nbsp;</em>ucapan beliau ini kami dengar langsung saat beliau mengisi Dauroh Al-Qur’an di kota Bandung yang diselenggarakan oleh Markaz Ibnul Jazary.</p>



<h2 class="wp-block-heading">13. Tidak Membaca Al-Quran Dalam Kondisi Mengantuk</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adab membaca Al-Qur’an yang ketiga belas adalah tidak membaca Al-Qur’an saat kondisi sedang lelah sekali atau mengantuk, hal ini didasari oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 787) dari Abu Hurairah&nbsp;<em>radhiyallahu ‘anhu,&nbsp;</em>Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam&nbsp;</em>pernah bersabda:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيلِ، فَاسْتَعْجَمَ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ، فَلَمْ يَدْرِ مَا يَقُوْلُ، فَلْيَضْطَجِغْ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Apabila salah seorang diantara kalian bangun (shalat malam), kemudian tidak jelas bacaan Al-Qur’an dari mulutnya, sehingga dia tidak mengetahui apa yang diucapkannya, maka hendaknya dia tidur.”&nbsp;</em>(HR. Muslim no. 787)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kenapa perbuatan tersebut dilarang? Alasannya dijelaskan oleh Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam&nbsp;</em>dalam haditsnya yang lain:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ؛ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَا يَدْرِي لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Apabila salah seorang diantara kalian mengantuk dalam shalat, maka tidurlah sampai hilang rasa kantuknya. Sesungguhnya salah seorang diantara kalian apabila shalat dalam keadaan mengantuk maka bisa jadi dia ingin meminta ampun, tetapi malah memaki dirinya sendiri”&nbsp;</em>(HR. Muslim no. 768)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini juga berlaku saat membaca Al-Qur’an diluar shalat, alasannya sama, yaitu dikhawatirkan ia terjatuh dalam kesalahan dalam membaca Al-Qur’an yang menyebabkan mengubah makna bacaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">14. Sujud Tilawah Ketika Sampai Pada Ayat Sajdah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang dikenal dengan sebutan ayat sajdah, yaitu ayat yang berisi anjuran untuk sujud. Ayat-ayat ini pada mushaf Al-Qur’an biasanya ditandai dengan simbol kubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sebuah haditsnya Rasulullah&nbsp;<em>shallallahu ‘alayhi wa sallam&nbsp;</em>bersabda:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">إذا قَرَأَ ابنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطانُ يَبْكِي، يقولُ: يا ويْلَهُ، وفي رِوايَةِ أبِي كُرَيْبٍ: يا ويْلِي، أُمِرَ ابنُ آدَمَ بالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الجَنَّةُ، وأُمِرْتُ بالسُّجُودِ فأبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ. وفي رواية: فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Apabila anak Adam membaca ayat sajdah lalu ia sujud maka syaithan menyingkir sembil menangis seraya berkata: ‘Celakalah dia’ –</em>dalam riwayat Abu Kuraib (syaithan berkata)<em>: ‘Celakalah aku.’- Anak Adam diperintah untuk sujud lalu dia sujud maka baginya Surga, sedangkan aku diperintah untuk sujud tapi aku enggan maka bagiku Neraka.”</em>&nbsp;dalam riwayat yang lain disebutkan:&nbsp;<em>“akan tetapi aku bermaksiat,maka bagiku Neraka.” (HR.</em>&nbsp;Muslim no. 787)</p>



<h3 class="wp-block-heading">Apa Yang Dibaca Saat Sujud Tilawah?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Diantara bacaan yang dibaca saat sujud tilawah adalah:</p>



<p class="wp-block-paragraph">سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Wajahku bersujud kepada Allah yang menciptakannya dan membuka (memberikan) pendengaran dan penglihatannya, dengan daya upaya dan kekuatan-Nya”&nbsp;</em>(HR. Abu Dawud no. 1414)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian empat belas Adab-adab Membaca Al-Qur’an yang dapat kami sebutkan pada tulisan kali ini, semoga dapat menjadi pencerahan untuk kami dan para pembaca sekalian. Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hati kita yang membimbing kita menuju surgaNya.&nbsp;<em>Amiiin</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selesai ditulis di hari Rabu Sore, 19 Mei 2021, 15.37 WIB<br>Perum Graha Prima, Tambun</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhukum Al-Faqiir<br><strong>Heri Suheri</strong></p>
<p>The post <a href="https://portalviral.co/adab-adab-membaca-al-quran/">Adab-Adab Membaca Al-Qur’an</a> appeared first on <a href="https://portalviral.co">Situs PortalViral.Co</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://portalviral.co/adab-adab-membaca-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
