Sebagai pebisnis tentu memiliki beberapa strategi penjualan agar produk atau jasa yang bisa sampai ke target pasar dan terjadi konversi pembelian. Dalam dunia bisnis ada istilah metode soft selling dan metode hard selling. Lalu apa maksud dan perbedaan soft selling dan hard selling dalam strategi penjualan?

Banyak orang awam bahkan pebisnis pemula yang masih bingung membedakan kedua metode ini. Padahal jika sudah bisa memahami dan menguasasi teknik soft selling dan hard selling. Serta mampu menerapkan kombinasi keduanya dalam bisnis, maka besar kemungkinan bisnis akan sukses.

Bagi kamu pebisnis pemula atau memiliki ketertarikan untuk kelak terjun ke dunia bisnis. Kamu wajib baca artikel ini sampai selesai untuk mengetahui dan memahami perbedaan kedua metode ini ya!

Pengertian Soft Selling

Soft selling atau menjual secara halus adalah sebuah metode pendekatan konsumen secara halus dan bahkan target konsumen tidak sadar bahwa ia sedang ditarget. Hal ini karena soft selling bertujuan untuk menyasar emosi dan pikiran dari konsumen untuk lebih kenal dengan brand atau nama produk tertentu.

Soft selling memiliki tujuan jangka panjang yaitu agar nama produk dikenal terlebih dahulu oleh masyarakat dan tidak bertujuan untuk langsung membeli saat itu juga. Beberapa contoh dari Soft selling adalah branding, endorse, giveaway, CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan, hingga humas.

Untuk contoh konkretnya bisa ambil contoh dari iklan Gojek. Branding dan iklan yang ditampilkan dari Gojek selalu berhasil menyentuh sisi emosional dari penontonnya. Sehingga meskipun setelah menonton iklan Gojek, konsumen tidak langsung menggunakan jasa Gojek. Namun kekuatan nama Gojek akhirnya menjadi sangat besar dan menjadi pilihan pertama bagi sebagian besar konsumen Indonesia saat mereka membutuhkan kendaraan secara online.

Sehingga metode soft selling memiliki fokus bagaimana membangun citra bisnis yang baik dan diterima oleh khalayak masyarakat secara luas. Sehingga di benak mereka akan tertanam citra positif dan menjadi alternatif pertama yang muncul dalam benak konsumen ketika mereka membutuhkan suatu barang atau jasa.

Pengertian Hard Selling

Lalu yang kedua adalah metode hard selling yang sangat berkebalikan dengan metode soft selling sebelumnya. Hard selling atau penjualan langsung adalah suatu strategi untuk mempromosikan barang atau jasa yang difokuskan untuk mempengaruhi tindakan konsumen. Hard selling lebih menekankan kepada pengambilan tindakan oleh konsumen secara rasional untuk segera membeli barang atau jasa karena adanya keuntungan tambahan dari suatu produk.

Tujuan dari hard selling adalah untuk penawaran jangka pendek, sehingga konsumen langsung membuat keputusan pembelian pada saat itu juga. Beberapa contoh dari hard selling adalah diskon, bundling produk, hingga penawaran terbatas seperti edisi spesial tahun baru atau edisi spesial lebaran. Sehingga konsumen akan merasa sayang dan rugi jika tidak membeli saat diskon berlangsung.

Contohnya adalah seperti ketika kamu berjalan jalan di supermarket atau mall. Lalu kamu masuk ke toko pakaian karena sedang mencari celana olahraga. Lalu ternyata sedang ada diskon 50% untuk pembelian satu set baju dan celana olahraga. Akhirnya kamu pun membeli satu set baju dan celana olahraga karena merasa sayang mumpung lagi diskon. Padahal sebenarnya tujuan awal hanya membeli celana dan bukan baju. Namun karena diskon akhirnya berakhir membeli keduanya karena merasa lebih diuntungkan ketika membeli satu set dengan diskon. Seperti itulah hard selling bekerja.

Oleh karena itu metode promosi dengan hard selling ini biasanya ditujukan untuk strategi pembelian jangka pendek. Misalnya di akhir tahun untuk menghabiskan stok barang, maka diadakan Buy 1 Get 1 free. Atau diskon besar-besaran. Diharapkan dengan adanya penawaran langsung ini, konsumen langsung tergerak untuk membeli karena takut kehabisan.

Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling

Gambar Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling

Setelah membahas mengenai pengertian dari masing masing penjualan secara langsung dan penjualan secara halus. Kini saatnya membandingkan sebenarnya apa sih beda dari kedua metode promosi ini? Mana yang lebih baik? Dan bagaimana cara menerapkannya dalam bisnis? Berikut ini beberapa aspek perbedaan dari soft selling dan hard selling yang perlu diketahui.

1. Jangka Waktu yang Diperlukan

Soft selling bertujuan untuk membangun kepercayaan khalayak terhadap brand. Dan kepercayaan adalah sesuatu yang harus dibangun lama hingga bisa dipercaya masyarakat. Kelebihan dari soft selling, jika khalayak sudah percaya terhadap suatu produk atau brand, biasanya mereka akan loyal.

Ditambah lagi mereka akan merekomendasikan produk atau brand tersebut secara sukarela pada orang terdekatanya. Sehingga kepercayaan terhadap suatu brand akan tinggi dan menjadi pilihan pertama setiap akan membeli produk tertentu. Sehingga metode soft selling membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan butuh berkelanjutan.

Hal ini berkebalikan dengan hard selling dimana bersifat lebih singkat dan to the point. Dimana konsumen diminta untuk langsung bertransaksi saat itu juga dengan iming-iming harga lebih murah, lebih hemat, dan lebih untung.

Oleh karena itu biasanya hard selling dilakukan dengan batas waktu yang singkat. Seperti diskon 50% hanya untuk pembelian hari ini!

Baca Juga: 8+ Usaha yang Terbukti Menghasilkan Uang Perhari

2. Ketertarikan Konsumen Terhadap Produk

Soft selling membuat masyarakat tertarik dengan seluruh konsep dari produk tersebut. Misalnya brand yang menonjolkan image ramah lingkungan, atau brand yang menunjukkan dukungan terhadap isu perempuan. Sehingga ikatan emosional terjalin dengan kuat antara konsumen dan pebisnis karena merasa memiliki ketertarikan minat dan tujuan yang sama. Sehingga dengan soft selling akan menghasilkan konsumen yang loyal.

Sedangkan metode hard selling tidak memberikan ruang bagi konsumen untuk mengeksplor lebih jauh tentang produk yang ditawarkan. Namun lebih fokus pada keuntungan materi yang akan didapat oleh konsumen ketika membeli produk tersebut. Sehingga bisa jadi, ketika masa promosi atau diskon berakhir, konsumen akan beralih ke produk atau merek lainnya yang lebih murah atau memberikan untung lebih banyak.

3. Tujuan Promosi

Tujuan dari promosi kedua metode ini juga sangat berbeda. Untuk soft selling selain mendapatkan kepercayaan dari khalayak juga untuk citra perusahaan dan memperluas jangkauan konsumen. Sehingga kesuksesan soft selling tidak dinilai dari banyaknya transaksi penjualan yang terjadi. Namun dari kesan baik yang dibangun di masyarakat.

Adapun hard selling fokus utamanya adalah konversi penjualan, semakin banyak transaksi yang terjadi maka promosi bisa dikatakan sukses.

Baik soft selling maupun hard selling, keduanya memiliki tujuan yang berbeda. Tidak bisa mengatakan bahwa soft selling lebih baik atau lebih buruk dari hard selling atau sebaliknya. Namun keduanya bisa dilakukan untuk meningkatkan promosi bisnis.

Kamu bisa menggunakan soft selling di awal memulai bisnis atau ketika meluncurkan produk baru agar masyarakat kenal dengan produkmu seperti endorse. Lalu setelah olshop atau bisnismu mulai dikenal banyak orang, kamu bisa menerapkan hard selling untuk memancing orang-orang membeli produkmu.

Bagaimana, apakah kamu sudah memahami perbedaan soft selling dan hard selling? Jika sudah paham silahkan terapkan dalam bisnismu kelak ya. Dan jika belum paham bisa tinggalkan pertanyaanmu di kolom komentar di bawah ini! Selamat berbisnis!

Bagikan:
Nadya Lizka

Nadya Lizka

love to learn and rewrite my lesson for you

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.